Tebar Al Qur’an di Kampung Nasrani Peninggalan Penjajah Belanda

Sejuta QuranSenin 27 Mei 2013 pukul 11.00 WIB tim Yawash berangkat dari kantor di Jakarta Timur menuju lokasi wakaf di desa Cikawung Ading, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan  mengendarai mobil operasional APV kami tiga orang pengurus Yayasan Wakaf  dipandu oleh kang Denny salah seorang panitia acara penerimaan wakaf daerah setempat. Medan perjalanan cukup menantang, selain naik turun dan tikungan tajam, sebelah  kanan dan kiri adalah  jurang yang cukup dalam. Setelah menempuh  kurang lebih 8 jam perjalanan, tibalah kami di Pondok Pesantren (PonPes) Al Makmunul Hamidiyah, kampung Bihbul, desa Bantar kalong, kec. Cipatujah. Kami bermalam di Ponpes ini karena waktu sudah malam dan kondisi tim Yawash cukup lelah.

Esok paginya kami bersilaturahim ke rumah pimpinan PonPes KH. Abdul Hamid. Beliau adalah wakil ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya. Salah satu program dari PonPes ini adalah membina para muallaf di desa yang akan kami kunjungi. Tanpa diduga sang Kyai bersedia ikut kami, bahkan beliau sendiri yang menjadi sopir tim Yawash  menuju ke lokasi.  Ketika kami tanya mengapa beliau yang jadi sopir, beliau menjawab, “Supaya bisa berkontribusi dalam perjuangan mengantar wakaf ini” katanya.


Selain Beliau  Tim Yawash ditemani oleh beberapa orang panitia acara dan salah satunya adalah  Ustad Engkos sang menantu Kyai .

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lamanya, tibalah kami di lokasi wakaf. Lokasi ini hanya berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai Laut Selatan. Namun sayang keindahan pantainya dirusak oleh oknum pengusaha nakal pengeruk pasir besi. Kami disambut oleh Ustad Yayan dan para tokoh serta masyarakat setempat binaan beliau.
Ustad Yayan adalah seorang da’i yang ditugaskan oleh PonPes Al Makmunul Hamidiyah pimpinan KH. Abdul Hamid untuk membina para Mualaf di desa ini. Beliau  baru  mengabdi sekitar 2 tahun lamanya, namun sudah cukup banyak prestasi yang ditorehkannya.

Acara simbolis penyerahan Wakaf Al Qur’an dilaksanakan di masjid yang berada tepat di depan rumah Ustad Yayan. Acara berlangsung secara sederhana namun penuh nuansa kekeluargaan. Turut hadir pula para aparatur desa mulai dari tingkat kecamatan hingga RT. Pada kesempatan ini kami menyerahkan bantuan Al Qur’an wakaf sebanyak 68 eksemplar dan mukena 20 pcs. Ternyata diluar perkiraan kami, dengan jumlah sebanyak itu masih belum mencukupi. Karena desa tetangga juga menginginkannya.
Dalam penyampaian sambutan tim Yawash, mengatakan bahwa, barang yang paling berharga dan paling berguna untuk mencapai kebahagiaan adalah Al Quran, dan siap untuk mengirimkanya kembali jika memang masih membuthkan mushaf Alquran.

Desa Cikawung Ading, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat ini dulunya merupakan perkampungan Kristen peninggalan penjajah Belanda di bibir pantai Laut Selatan. Namun lambat laun jumlah Muallafnya semakin hari semakin bertambah. Hal ini terjadi karena selain kegigihan para da’i, juga mereka sudah mulai faham Islam sebagai agama yang sesuai fitrah.

Bahkan ada kasus tertentu orang tua mereka sebelum meninggal berkata kepada keluarganya agar kelak mereka masuk Islam kata KH. Abdul Hamid.
Sampai saat ini 1 RT dari 2 RT yang ada di wilayah ini sudah memeluk Islam. Jarak antara Masjid dan Gereja hanya sekitar 300m. Alhamdulillah perjuangan KH. Abdul Hamid dan timnya membuahkan hasil yang membanggakan. Beliau rutin juga mengisi Taklim sekaligus mengontrol perkembangan dakwah disana. Beliau sangat disegani oleh masyarakat setempat termasuk para Pendeta.

Untuk memudahkan dalam membina para muallaf maka ustad Yayan mendirikan Yayasan Al Hikmah. Saat ini yayasan sedang membangun bangunan yang diperuntukkan untuk proses belajar mengajar binaanya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bangunan ini terletak di sekitar masjid depan rumah beliau yang dikelilingi permukiman Kristen.

“Alhamdulillah walau berada dalam lingkungan Nasrani disini tidak pernah mengalami hambatan dalam mengemban dakwah. Ikatan keluarga masyarakat disini sangat kuat sehingga bisa jadi dalam satu keluarga berbeda akidah, namun alhamdulillah tidak pernah terjadi gesekan berarti.” Ujar Ustad. Yayan

Namun sayangnya pembangunan itu sejak 3 bulan lalu sudah terhenti, bahkan ada tunggakan di toko material sebesar Rp 80jt an. Hingga kini bangunan yang baru tahap pengerjaan 40%an tersebut terlantar begitu saja. Bantuan dari Pemda setempat dan para donatur belum juga mencukupi. “Mudah mudahan Allah memudahkan kesulitan yang sedang kami hadapi ini”  harap ustad Yayaan.
“Barangkali anda para pembaca bisa membatu?” silakan hubungi tim Yawash.

author
No Response

Leave a reply "Tebar Al Qur’an di Kampung Nasrani Peninggalan Penjajah Belanda"