Al-Qur’an untuk Halmahera Timur

No comment 247 views

Berangkat dari keinginan menyediakan sarana Al-Qur’an ke wilayah-wilayah pelosok di Indonesia sebagai upaya membentuk insan Qurani bagi setiap umat Muslim, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) menyalurkan Al-Qur’an ke sejumlah desa di Kabupaten Halmahera Timur. Yang dibidik Desa Soagimalaha, Kec. Kota Maba, Desa Sangaji (Kota Maba), Desa Wailukum (Kota Maba), Desa Loleolamo (Maba Selatan), Desa Gotowasi (Maba Selatan), Desa Petelai (Maba Selatan), Desa Waci (Maba Selatan), Desa Bicoli (Maba Selatan), Desa Saramake (Wasile Selatan), Desa Cemara Jaya (Wasile Timur), Desa Patlean (Maba Utara), dan Desa Wayamli (Maba).

Sejumlah masjid dan Taman Pendidikan Al-Qur’an di desa itu sebelumnya dalam kondisi kekurangan sarana Al-Qur’an. Kalau pun ada, kondisi kitab kurang baik, terlihat kusam, lepas jilidannya, atau robek. “Banyak masjid masih menggunakan Al-Qur’an cetakan lama, jadi terlihat kusam. Malah ada masjid tidak lagi memiliki Al-Qur’an,” kata Nurhadi, dai yang melakukan pembinaan di sejumlah desa Halmahera Timur.

Menurut ia, tidak mudah mendapat Al-Qur’an di Halmahera Timur. Belum ada toko buku lengkap di daerah ini, apalagi Al-Qur’an. Kalau pun ada harganya mahal, antara dua sampai tiga kali lipat dari harga di Jawa. Yang mudah memperolehnya di Ternate, tetapi mesti mengeluarkan biaya transportasi tidak sedikit karena harus menyeberang laut.

“Yang jadi persoalan kondisi masyarakat banyak tidak mampu,” jelasnya. Akibat kurang begitu tersedianya Al-Qur’an di TPQ dan masjid, pengajaran Al-Qur’an menghadapi kendala. Padahal, masyarakat sangat antusias ingin belajar agama.

Penghasilan masyarakat umumnya diperolehnya dari hasil berkebun dan hasil laut. Dengan berkebun, mereka menanam singkong, pisang, kelapa, cengkeh, dan pala. Sedang dari hasil laut, mencari ikan dengan cara menjala dan memancing. Hasil berkebun dan memancing dijual di desa-desa tempat mereka tinggal.

“Hasil kebun dan laut juga mereka konsumsi sendiri. Sehari-hari mereka biasa makan sagu dan singkong, serta ikan,” kata Nurhadi.

Tanah Subur

Kabupaten ini terdiri dari pulau besar yang dikelilingi gugusan pulau kecil. Wilayah pegunungan didominasi batuan gunung api andesit yang membuat tingkat kesuburan tanah cukup baik untuk kegiatan pertanian. Kurang lebih 80% desa berada di daerah pantai, sedangkan 20% lainya berada di daerah pegunungan.

Data penduduk dari Badan Pusat Statistik Kab. Halmahera Timur pada tahun 2014 sejumlah 82.914 jiwa. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2015 di kabupaten tersebut diketahui penduduk usia 15 tahun ke atas sebanyak 65,83% (54.582 jiwa). Di antara mereka yang tidak mempunyai ijazah 16,49%, pemegang ijazah SD 33,82%, SMP/MTs 22,80%, SMA/SMK/MA/MAK 22,15%, D1-D2 0,52%, D3-S3 4,21%. Dengan demikian mayoritas penduduk usia produktif maksimal memegang ijazah SD.

“Banyak anak putus sekolah karena harus membantu orang tuanya berkebun. Tetapi bukan berarti orang tuanya tidak ingin menyekolahkan anaknya, semata-mata hanya persoalan ekonomi,” kata Nurhadi berdasarkan pengamatannya.

Sementara dalam hal kebutuhan agama, umumnya menyambut baik pihak yang mau mengajarkan agama pada mereka. Saat ini dirasakan kekurangan tenaga dai, khususnya untuk pengajaran Al-Qur’an. “Mereka sangat mengharapkan kedatangan kita. Hal ini karena pada peristiwa kerusuhan beberapa tahun lalu banyak pengajar agama meninggalkan Halmahera,” ucap Nurhadi.

Ia pun menyampaikan, sejalan dengan harapan masyarakat tersebut terhadap kedatangan para dai, tentunya juga diperlukan sarana pengajaran agama dan Al-Qur’an untuk penduduk dan anak-anak di Halmahera timur yang saat ini dalam kondisi minim.*

author
No Response

Leave a reply "Al-Qur’an untuk Halmahera Timur"