Al-Quran Wakaf Memberi Manfaat di ‘Kampus Perubahan’

KALAU mencuri jangan hanya tiga sepeda, sekalian saja 30 kontainer. Demikian juga kalau menjual narkoba, jangan hanya tiga kilogram. Sekaligus saja 30 ton,” kata Ustd. Khotimatun Nisa’ saat memberi pengajaran kepada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Surabaya (berada di Porong, Sidoarjo). “Mungkin narkoba segitu narkobanya seluruh dunia,” selorohnya.

Pada saat itu Ustd. Khotimatun memberikan materi Tafsir al-Quran dengan menyinggung surat al-Baqarah ayat 208, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan jangan kamu turuti langkah-langkah setan…” Ia mencoba memberi pengertian kepada para narapidana terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan, berikut resikonya.

“Mencuri satu sepeda dengan mencuri banyak sepeda memiliki resiko sama, yaitu sama-sama bisa dijerat aparat, bahkan dihakimi masyarakat. Karena itu Anda harus berfikir dulu jika akan melakukan sesuatu. Maka untuk sebaliknya, jika Anda semua ingin menjadi orang baik, jadilah orang yang betul-betul baik. Jangan setengah-setengah, laksanakanlah ajaran Islam secara kafah,” katanya.

Di Lapas Kelas 1 Surabaya itu Khotimatun Nisa’ mengajar di satu kelas yang dinamakan Madrasah. Madrasah ini berlangsung dari hari Senin sampai Jumat, dengan jam pelajaran dari pukul 08.30 sampai 11.00. Narapidana yang mengikuti 35 orang.

Kehadiran peserta di Madrasah ini merupakan pilihan kegiatan yang dilakukan para narapidana. Narapidana lain bisa mengikuti pelatihan kerajinan, kegiatan laundry, pesantren, aktif di Taman Baca, dan sebagainya. “Kegiatan ini merupakan syarat yang harus diikuti jika narapidana akan diberi pembebasan bersyarat,” jelas Ustd. Khotimatun Nisa’.

Kehadiran Ustd. Khotimatun di Madrasah tersebut mewakili Lembaga Pendidikan dan Dakwah Yayasan Sekar Mentari di Sidoarjo yang memiliki kegiatan pembinaan terhadap para narapidana. Yayasan ini juga melakukan pembinaan di Lapas Kelas 2 Sidoarjo.

Alhamdulillah, saat pengajaran Tafsir al-Quran berlangsung, para narapidana telah memegang al-Quran terjemah bantuan dari Yayasan Wakaf Al Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) sebagai sarana pelajaran. Sebagaimana diketahui belum lama ini Yayasan Sekar Mentari diberi bantuan 88 al-Quran untuk digunakan sebagai sarana pendidikan para narapidana.

“Alhamdulillah bantuan al-Quran dari Hidayatullah (YAWASH) bermanfaat untuk para narapidana di kampus perubahan ini,” kata Khotimatun. Ia memang suka menyebut Madrasah yang ada di Lapas kelas 1 Surabaya itu sebagai kampus perubahan, karena pendidikan yang diberikan kepada narapidana diharapkan bisa memberi perubahan ke arah lebih baik, baik perilaku maupun kehidupannya.

“Itu betul-betul kami tekankan kepada peserta Madrasah. Yang masuk ke kelas harus punya niat untuk berubah. Kalau tidak ingin berubah, lebih baik tidak usah mengikuti Madrasah ini,” ucapnya. Karena itu, pihaknya mengesampingkan istilah sampah masyarakat yang ditujukan kepada narapidana. “Mereka bukan sampah masyarakat, tetapi pribadi yang mau didaur ulang menuju ke arah lebih baik.”

Guna merealisasikan hal itu, narapidana yang ikut madrasah langsung dikelompokkan dalam ruang penjara yang sama. Tidak dicampur dengan narapidana ‘non-peserta’ madrasah. Hal ini agar di antara mereka bisa saling mengingatkan dan menguatkan terhadap apa yang telah diperoleh di kelas.

“Maka itu bantuan al-Quran dari Hidayatullah terbagi habis kepada narapidana. Para narapidana bisa menggunakan di kamarnya masing-masing, untuk mengaji atau dibahas dengan sesama temannya. Bahkan, ada yang sudah diberi al-Quran tetapi tidak melanjutkan ikut Madrasah. Ya tidak apa-apa. Al-Quran itu pun akan dibawa pulang jika masa hukumannya selesai,” sebut Khotimatun.

Karena itu ia berharap, pihak yang memberi bantuan al-Quran, termasuk YAWASH, terus mengirimkan bantuannya karena peserta Madrasah sangat membutuhkan al-Quran.*

 

author
No Response

Leave a reply "Al-Quran Wakaf Memberi Manfaat di ‘Kampus Perubahan’"