Bahaya Berpaling dari al-Qur’an (1)

ومن يعش عن ذكر الرحمن نقيض له شيطانا فهو له قرين، وإنهم ليصدونهم عن السبيل ويحسبون أنهم مهتدون

Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Surah az-Zukhruf [43]: 36-37)

Muqaddimah
Menyikapi kebenaran kandungan al-Qur’an adalah pilihan bagi setiap manusia. Ia bebas menjatuhkan pilihan sekaligus bersiap menanggung resiko yang ditimbulkan. Oleh al-Qur’an pilihan itu bernama; imma syakiran wa imma kafuran, apakah manusia tersebut menjadi orang yang bersyukur atau memilih tergolong ingkar dan tak tahu diri terhadap nikmat Tuhan.

Ayat di atas mengurai sekaligus mengingatkan akibat berpaling dari ajaran al-Qur’an. Ketika orang lalai dari mempelajarinya atau tidak peduli dengan tuntunan yang disyariatkan, niscaya ia dijauhkan dari kenikmatan iman serta ukhuwah. Akibatnya, ia justru gelisah kala berinteraksi dengan al-Qur’an. Mereka malah dicekoki dengan “kenyamanan” bersahabat dengan setan yang notabene adalah musuh nyata bagi orang-orang beriman.

Makna ayat
Menurut ahli tafsir terkenal, Abdurrahman as-Sa’di, dzikru Rahman tak lain adalah al-Qur’an sebagai pemandu hidup orang-orang beriman. Bagi setiap Muslim, al-Qur’an adalah rahmat terbesar yang diberikan oleh Yang Maha Penyayang kepada segenap hamba-Nya. Hendaknya mereka meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan hidup dan al-Qur’an adalah sebaik-sebaik hadiah dari Allah. Sebab di sana terbentang lapang jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup dunia dan akhirat.

Sebaliknya, jika berpaling dari al-Qur’an dan mengabaikan ajarannya, menjadi awal segala kesengsaraan hidupnya kelak. Pikirannya terbuai dalam angan-angan kosong yang dijanjikan oleh setan, kawan barunya. Sedang dirinya tenggelam dalam kubang maksiat kepada Allah.

Senada di atas, az-Zujaj seperti dihimpun oleh asy-Syaukani dalam Tafsir Fathu al-Qadir berkata, siapa di antara manusia berpaling dari al-Qur’an dan lalai dari mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya, niscaya Allah timpakan kepadanya pertemanan dengan setan.

Layaknya sekawan yang karib, orang itu tak lagi berjarak dengan setan yang sesungguhnya biang dari segala keburukan dan kesengsaraan dunia akhirat. Karena “terlanjur” akrab, alih-alih mampu menolak, jiwa yang sudah tertipu itu tak sungkan lagi menuruti segala bisikan yang membuatnya terjerat dalam perangkap jahat setan.

Oleh Allah, orang itu kelak mendapatkan hukuman yang setimpal dan penyesalan tiada berbatas. “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman yang berkata: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (Hari Kiamat)? Apakah jika kita telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang? Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?

Berkata pulalah ia: Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” (Surah ash-Shaffat [37]: 51).*/Masykur, Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Bahaya Berpaling dari al-Qur’an (1)"