Bahaya Berpaling dari al-Qur’an (2)

AYAT 51 Surah ash-Shaffat menerangkan makna menarik berupa korelasi sebab akibat. Seorang hamba yang menjauh dari al-Qur’an justru kian mendekatkan dirinya kepada setan. Layaknya sebuah promosi gratis, musuh Allah itu dengan senang hati berkawan kepada manusia-manusia yang diliputi kegalauan jiwa. Tak tanggung-tanggung, ikatan mereka langsung menjadi hubungan spesial yang dinamai qarin. Sebuah nama untuk persahabatan yang dekat dalam istilah al-Qur’an.

Di saat yang sama, orang yang sudah punya hubungan karib dengan setan, pastinya merasakan kegelisahan saat berhadapan dengan cahaya al-Qur’an. Alih-alih bisa larut dalam pesona mukjizat al-Qur’an, orang yang berkawan dengan setan itu justru terbakar oleh cahaya yang dipancarkan wahyu Allah itu.

Untuk itu, ayat ini bisa menjadi bahan uji sederhana terhadap kualitas keimanan seseorang. Apakah ia mampu merasakan atmosfir keteduhan jiwa melalui sentuhan al-Qur’an ataukah sebaliknya, justru aura kegelisahan itu yang kian tampak menguasai dirinya. Apakah orang itu lebih betah melewatkan waktu luangnya dengan membaca al-Qur’an atau ia memilih tenggelam selama berjam-jam hanya dengan perbuatan sia-sia, bahkan mengandung dosa.

Bahaya Islamophobia

Lebih jauh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi Rahimahullahu mengurai dampak yang sangat dahsyat dari sikap menyepelekan al-Qur’an. Menurutnya, orang yang berani mengabaikan syariat agama dan tenggelam dalam kelezatan dunia, Allah menjadikan dirinya terbelenggu oleh tipu daya setan. Saban waktu fikiran orang tersebut hanya dijejali oleh pesona syahwat dunia dan materi yang melenakan.

Menurut pengarang Tafsir al-Maraghi tersebut, ketika hal itu menimpa, orang yang terjangkiti virus anti al-Qur’an mendadak berubah menjadi sosok Islamophobia. Ia berbalik arah menjadi orang terdepan yang menentang ajaran al-Qur’an dan syariat Islam. Setiap waktu ia justru larut dalam diskusi pemikiran dan perilaku yang merugikan serta menyakiti umat Islam.

Dikatakan, ibarat seekor lalat yang suka hinggap di berbagai kotoran atau lingkungan yang jorok, orang yang berpaling dari al-Qur’an itu hanya melahirkan keburukan dan maksiat kepada Allah. Atas nama pembaharuan agama misalnya, mereka justru telah menistakan kesucian agama dengan cara berfikir yang menyeleneh.

Boleh jadi inilah yang terjadi bagi sekelompok masyarakat yang kini dikenal dengan pemuja aliran Sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme). Meski kelompok itu datang mengatasnamakan gerakan Islam pembaruan atau pembebasan, tetapi sebenarnya mereka datang dengan racun pemikiran yang berbahaya buat umat Islam. Mereka adalah tumbal dari pemikiran mereka sendiri. Orang demikian hanyalah korban berpaling dari al-Qur’an yang menjadikan mereka terpedaya oleh bujuk rayu setan.

Faktanya, dengan karunia nalar yang diberikan oleh Allah, mereka justru berusaha mengobok-obok ajaran Islam. Silih berganti syubhat dan syahwat mereka hembuskan kepada umat Islam hanya untuk mengaburkan nilai-nilai al-Qur’an. Ironis karena yang demikian itu bukan karena tak paham dengan ajaran Islam, sebab tak sedikit di antara mereka berlatar akademisi bahkan tergolong cendekia yang punya segudang ilmu pengetahuan.

Alhasil, tak ada alasan menunda untuk mengaca kembali kepada hikmah yang dikandung dalam al-Qur’an. Sebab di sana ada telaga jernih tempat hati bercermin mematut diri kembali. Boleh jadi jiwa ini tak mampu merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an bersebab kotoran yang melekat di dalam hati. Boleh jadi hati ini keras karena mulai berpaling dari dakwah dan syariat yang digariskan oleh Allah.*/Masykur, Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Bahaya Berpaling dari al-Qur’an (2)"