Bahaya Racun Sekularisme (1)

No comment 60 views

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

Katakanlah (Muhammad): “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka ingkar terhadap (kehidupan) akhirat.” (Surah Fushshilat [41]: 6-7)

Mukadimah
Ciri khas dakwah tauhid, setiap Nabi selalu memberi penegasan akan positioning dirinya sebagai hamba pesuruh semata. Mereka hanyalah penyampai risalah dan pendakwah. Sedang asal mereka adalah manusia biasa seperti kebanyakan manusia lain.

Konsep tawassuth (pertengahan) ini patut selalu disegarkan sebab umat Islam seringkali dijejali dengan syubhat segelintir manusia yang juga mengaku Nabi dan punya ajaran baru setelah kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Bahkan, tak jarang ada yang menjadikan manusia sebagai tuhan yang disembah dan diibadahi.

Oleh karenanya sebagai syariat penutup, ajaran Islam kembali menegaskan beberapa hak yang harus dipenuhi dalam kehidupan manusia. Yang tertinggi adalah hak ketuhanan yang dipunyai oleh Allah semata. Kedua, hak kenabian bagi orang-orang mulia utusan Allah tersebut. Sedang yang terakhir, hak kemanusiaan buat seorang Nabi dan keluarganya.

Makna Ayat

Penafsiran ayat dengan memakai ayat yang lain adalah cara yang dikenal dalam metode tafsir al-ayat bi al-ayat. Yaitu, yang dimaksud dengan orang-orang musyrik yang celaka pada ayat keenam tak lain mereka yang enggan menunaikan zakat dan ingkar terhadap Hari Kebangkitan nanti (ayat yang ketujuh).

Mufassir ternama, Imam al-Qurtubhi lalu menghimpun pendapat mengenai ciri orang-orang yang terjangkiti virus syirik tersebut. Ibnu Abbas berkata, orang-orang musyrik disebut tidak menunaikan zakat karena tak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat “La Ilaha Illallah” sebagai implikasi zakat (pembersih) atas jiwa mereka.

Senada dengan itu, berkata Qatadah, mereka mengimani sebagian syariat Islam dan mengingkari sebagian lainnya. Sedang adh-Dhahhak dan Muqatil menyepakati, kelompok ini tak pernah bersedekah dan berinfak untuk sebuah ketaatan di jalan Allah.

Lebih jauh Imam az-Zamakhsyari pernah ditanya, apa hikmah Allah menggandengkan kekufuran seseorang dengan keengganan membayar zakat? Ia kemudian menjawab, harta adalah sesuatu yang paling dicintai manusia. Ia belahan yang memenuhi hidup seseorang selain ruh yang dimiliki. Sekiranya ia sanggup membelanjakan hartanya di jalan Allah, cukuplah itu sebagai bukti keimanan yang teguh serta kejujuran agama pada dirinya.

Sebaliknya orang-orang yang mengingkari perintah zakat adalah mereka yang patut dipertanyakan keimanannya. Firman Allah, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka…” (Surah al-Baqarah [2]: 265).

Bahaya Sekularisme

Ayat di atas mengingatkan tentang pertarungan tanpa batas antara dua ideologi yang berseberangan dalam kehidupan manusia. Olehnya, cahaya tauhid itu tak pernah dibiarkan memendar begitu saja oleh pelaku syirik. Sebagai biang dari seluruh kegelapan dan kezaliman di dunia, perbuatan syirik itu akan selalu ditiupkan oleh orang-orang yang hatinya telah gulita bahkan mati.

Seiring zaman yang terus bergulir, kini umat Islam tak hanya dihadapkan kepada syirik sebagai the most enemy. Tapi berbagai pola fikir dan pola sikap yang senada juga mulai bermunculan atas nama aliran yang sesat dan pemahaman menyimpang. Mulai dari doktrin sesat Syiah hingga ragam pemikiran nyeleneh lainnya. Antara lain misalnya, paham Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme.

Parahnya, sejumlah ide-ide itu seolah sudah “janjian” dan “sejodoh” dengan budaya-budaya Barat yang tak kalah merusak. Mulai dari budaya hedonisme, materialisme, kapitalisme, dan lain sebagainya. Akibatnya mudah ditebak, yang jadi korban -sekali lagi- adalah umat Islam sebagai mayoritas penduduk di negeri ini.*Masykur, pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Bahaya Racun Sekularisme (1)"