Bahaya Racun Sekularisme (2)

No comment 55 views

AYAT 6-7 Surah Fushshilat di atas secara tersirat mengungkap kesamaan orang-orang musyrik dan mereka yang mengusung paham sekularisme. Yaitu kesamaan semangat anti-Tuhan dan anti-hukum Tuhan. Tak sedikit di antara mereka berfikir picik, urusan Allah sudah selesai sejak penciptaan bumi dan langit serta seisinya itu. Layaknya sebuah jam yang telah selesai dibuat, selebihnya biarkan jarum jam itu berputar dengan sendirinya. Tanpa perlu ada campur tangan lagi dari si tukang jam (watch maker) sebelumnya.

Sebab realitasnya, mereka yang berhaluan sekuler acap tak ingin kehidupannya diatur agama. Seolah mereka berkata, urusan agama cocoknya kalau hari Jumat saat khatib naik mimbar. Atau setidaknya agama hanya mengurus shalat lima waktu atau tadarusan di masjid saja.

Ujung-ujungnya orang-orang sekularis itu beranggapan, sebagian perintah dan larangan agama sudah tak lagi relevan dengan era modern sekarang. Secara sengaja, mereka terus menghembuskan syubhat dengan membenturkan agama Islam dengan konteks kekinian.

Ajaran (agama) sudah usang, demikian sanggah mereka selalu. Atau yang lebih “halus” mereka berdalih, jilbab adalah budaya bangsa Arab dan hanya cocok di masyarakat Arab. Alhasil, kewajiban berhijab bagi muslimah hanya menjadi bahan canda dan cemoohan mereka. Zakat diganti dengan kewajiban pajak dan penarikan retribusi lainnya, itu celotehan mereka di berbagai media sosial.

Bangun kesadaran

Sejalan dengan kondisi internal umat Islam, kini pemikiran sekularisme perlahan mengular ke semua sisi kehidupan umat Islam. Satu demi satu spirit dan motivasi agama tercerabut dari kesadaran umat Islam, termasuk di dalamnya aspek ilmu dan pendidikan sebagai benteng pertahanan setiap Muslim.

Tanpa sadar semangat menuntut ilmu tak lagi membuat hati seseorang menjadi kian dekat kepada Allah. Orientasi keberhasilan murid hanya diukur dengan angka kognitif semata. Sedang ia lupa untuk menjadikan murid tersebut kian berakhlak bagus dan beradab.

Inilah yang hendaknya menjadi kegelisahan para guru dan orangtua. Sebab mereka sejatinya menjadi orang pertama yang meyakini belajar bagian dari ibadah. Bukan sekedar formalitas mendapatkan ijazah lalu melamar pekerjaan.

Para pendidik hendaknya menjadi barisan terdepan dalam menularkan keyakinan mereka, sekolah ataupun kuliah adalah jalan menuju surga. Bukan sekedar memuluskan untuk mengais pekerjaan di kantor-kantor ataupun perusahaan bergengsi. Sebab di antara sebab rusaknya peradaban manusia karena mereka hebat dengan pengetahuannya tapi jauh dari agamanya.*Masykur, pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Bahaya Racun Sekularisme (2)"