Belajar dari Episode Cinta Zulaikha (1)

MARI kita mengingat kembali satu kisah yang diabadikan lebih dari empat belas abad silam dalam Al-Quran, tatkala Nabi Yusuf a.s. mendapat kesempatan melakukan apa pun dengan seorang wanita cantik istri seorang raja pada waktu itu. Akan tetapi, Yusuf a.s. adalah seorang Nabi Allah yang amat menaati syariat-Nya. Maka kesempatan itu pun tidak digunakan, karena rasa takut mendalam kepada Allah.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung. (Yusuf: 23)

Luar biasa. Seorang wanita nan cantik jelita telah secara vulgar menawarkan diri kepada seorang pemuda tampan, Yusuf. Kisah ini menjadi sebuah pelajaran bahwa godaan syahwat lawan jenis tidak hanya menimpa manusia ‘pada umumnya’ atau yang biasa disebut sebagai orang awam. Nabi Allah, manusia pilihan, sekalipun, ternyata juga mendapatkan godaan seperti itu. Namun, lihatlah apa yang dilakukan oleh Yusuf a.s. dalam menghadapi godaan itu. “Aku berlindung kepada Allah,” sangat tegas sikap Yusuf.

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf: 24)

Inilah sisi-sisi kemanusiaan Yusuf dan Zulaikha, yang ditampakkan dengan jelas oleh Al-Quran. Keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain. Wanita istri raja tersebut memiliki ketertarikan terhadap Yusuf, tetapi ternyata ia tidak sepihak. Yusuf juga memiliki ketertarikan. Hanya saja, Allah telah menunjukkan bahwa ketertarikan tersebut tidak boleh diekspresikan secara salah.

Dan kedua-duanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak, dan keduanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Yusuf berkata, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)…” (Yusuf: 25-26)

Kisah yang diabadikan dalam Al-Quran tersebut memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita, terutama dalam kaitannya dengan hubungan pasangan jenis. Bahwa karena interaksi antara Yusuf dengan Zulaikha maka akhirnya menimbulkan ketertarikan yang besar –terutama pada Zulaikha. Ketertarikan itu sesungguhnya timbal balik, sebagaimana telah diungkapkan Al-Quran mengenai hal itu.

Akan tetapi, ketertarikan tersebut tatkala tidak segera diredam atau disalurkan secara benar, punya kecenderungan membesar menjadi perasaan lain yang sangat khusus. Kendati pun berstatus sebagai istri sah dari raja, rasa ketertarikan kepada pemuda Yusuf yang amat tampan itu tak bisa dipadamkan. Gagal membujuk Yusuf di dalam kamar yang telah terkunci, Zulaikha tidak putus asa. Ia masih mengejar Yusuf dan berhasil menarik baju gamis Yusuf bagian belakang hingga sobek.

Namun, karena perbuatan tersebut memang suatu aib yang sangat memalukan, begitu mereka membuka pintu kamar dan mendapatkan sang raja telah berdiri di hadapan mereka berdua, dengan sangat cepat Zulaikha menutup aib dirinya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Mengapa Zulaikha tidak mengusulkan agar Yusuf dihukum mati, atau dibuang jauh? Mengapa ia mengusulkan agar dipenjarakan atau dihukum berat?

Ya, mudah memahaminya. Terlalu dalam cinta Zulaikha kepada Yusuf. Masih banyak harapan yang bisa diberikan kepada Yusuf, apabila hukumannya adalah penjara. Kalau dihukum mati atau dibuang jauh, harapan itu menjadi sirna. Dengan dipenjara maka masih terbuka peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan Zulaikha untuk mendekati Yusuf. Namun, Yusuf tidak mau mendapatkan fitnah itu, segera ia membeberkan kebenaran, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).”

Perbuatan Zulaikha yang menggoda Yusuf menunjukkan sebuah kecenderungan nafsu yang tidak dilandasi dengan cinta kepada Allah. Sedangkan sikap Yusuf yang berlindung kepada Allah tatkala mendapatkan kesempatan untuk berselingkuh dengan istri raja, kendati pun ia memiliki kecenderungan pula kepada wanita tersebut, menunjukkan bahwa ia mampu menundukkan keinginan nafsunya. Inilah saatnya cinta harus berpisah dengan nafsu; karena tidak halal bagi Yusuf untuk berduaan apalagi bermesraan dengan Zulaikha maka ia memilih melarikan diri dari kamar tersebut.

Dalam membangun rumah tangga, diperlukan cinta dan diperlukan pula nafsu. Akan tetapi, pada saat nafsu telah meninggalkan cinta, ia menjadi tidak beraturan dan tidak bertanggung jawab. Nafsu menjadi tidak terkendali, liar, mencari mangsa, dan tidak pernah terpuaskan.

Sifat dasar dari nafsu kebendaan adalah tidak pernah terpuaskan. Seseorang yang tidak merasa puas dengan pelayanan istrinya, lalu mencari wanita lain untuk menghibur diri, sebanyak apa pun wanita yang telah diajak berkencan, tak akan pernah memberikan kepuasan hakiki kepada dirinya. Nafsu telah mendorong untuk semakin haus dan tidak akan pernah menemukan kepuasan dengan sepuluh, seratus, atau seribu wanita temannya berkencan.

Seorang istri yang merasa dikecewakan suami, lalu mencari kesenangan dan kepuasan dari lelaki lain, ia pun tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan. Nafsu akan terus menyeretnya ke dalam petualangan yang tiada henti. Ia akan lari dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lain, seperti piala bergilir. Ia tidak akan mendapatkan apa yang ia cari,kecuali setelah bertobat dan menemukan kembali cintanya karena Allah.*/Cahyadi Takariawan, dari bukunya Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah.

author
No Response

Leave a reply "Belajar dari Episode Cinta Zulaikha (1)"