Berakit Dahulu”Cahaya Quran” Kemudian.

No comment 488 views
banner 160x600
banner 468x60

YAWASH–Sebuah rakit terbuat dari potongan drum  yang dibentuk seperti perahu berukuran  3 X 0,7  meter. Dua buah ‘perahu’ itu lalu digabung dengan meletakkan  papan kayu  seluas 2 x 3 meter di atasnya.  Jadilah rakit tersebut yang menjadi satu satunya alat transportasi  jika ingin menyeberang mengunjungi  dusun  Tobajo  Sulawesi Barat.

IMG_0120
Dusun Tobajo terletak di seberang sungai  Benggaulu. Sungai yang berarus cukup deras dan memiliki lebar kira –kira 100 meter . Menyebrangi sungi ini dengan rakit bukanlah perkara mudah. Sebab bagi mereka yang tidak pernah menyeberang dengan alat transportasi sederhana ini, bisa jadi rakitnya tidak berjalan karena tidak mendapatkan tekanan arus, atau bisa juga  rakitnya melaju dengan  tidak beraturan atau bahkan  tenggelam. Namun bagi yang terbiasa mengunakanya, cukup hanya dengan memainkan posisi rakit, arus sungai secara otomatis akan mengantar penumpang  menyeberangi sungai  ini.
Dusun  Tobajo desa Bulubonggu  di kecamatan Dapurang,  terletak di hamparan sisi barat hutan lindung Mamuju Utara. Di dusun ini hanya ada sebuah taman kanak-kanak. Sedangkan mereka yang  sudah duduk di bangku sekolah dasar dan menengah mau tak mau  harus menyeberangi sungai dengan rakit tersebut setiap harinya jika pergi ke sekolah.
Seluruh warganya berprofesi sebagai petani sawit dan kakao , hanya  beberapa warga yang masih memilih menanam kopi dan tanaman jangka pendek lainya seperti jagung, padi dll.
Ada dua buah masjid di  desa  ini. Sayangnya mereka hanya melakukan shalat berjamaah sekali dalam sepekan, yakni shalat Jumat. Posisi Tobajo yang masih terpencil inilah barangkali yang menyebabkan sepinya masjid dari jamaah. Memang,  sejak dibukanya dusun ini tahun 1995 belum pernah ada jembatan. Itulah sebabnya penduduk desa kesulitan untuk  memasarkan hasil panenan karena membutuhkan biaya tambahan untuk  menyewa pembonceng guna  menyeberangkan hasil panen hingga ke desa Bulubonggu.
Namun dengan  kondisi yang demikian memprihatinkan ini   tidak menyurutkan warga untuk tetap istiqomah mengadakan pengajian rutin. Hal ini diakui oleh Bahar Samaila, imam masjid Al-Mukarromah dusun Tobajo yang juga seorang petani, bahwa  ia dan jamaahnya banyak mendapat pencerahan sejak diadakan pengajian rutin oleh dai-dai Hidayatullah Bulubonggu   awal 2009 silam.
Sedikitnya 60 anggota majelis taklim rutin menghadiri pengajian,walaupun jumlah ini menurut  kepala dusun Tobajo, Amir,  masih tergolong sedikit jika dibandingkan dengan jumlah  kepala keluarga yang ada.
Ustad Marsuki  Darusman salah satu dai pembimbing dusun Tobajo yang juga pengasuh di Hidayatullah Bulubonggu,  dalam satu kesempatan mengungkapkan bahwa Qur’an dari YAWASH disamping sebagai bahan pengajaran juga  adalah sebagai  alat untuk lebih dekat lagi dengan jamaah. Bagi dai yang dulunya berprofesi sebagai karyawan di perkebunan kelapa sawit ini membagikan al-Qur’an dari para wakif untuk kampung Tobajo  merupakan berkah tersendiri.

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Berakit Dahulu”Cahaya Quran” Kemudian."