Elegi Pagi Di Lereng Semeru

No comment 186 views

Jenazah pun diperebutkan antara pemeluk Islam dan Kristen.
Mayat itu terbaring kaku sejak beberapa jam yang lalu. Penduduk berbondong-bondong mendatangi rumah yang terletak di puncak bukit, tempat jenazah itu terbaring. Semakin siang, jilatan matahari kian menyengat. Penduduk yang berkumpul pun semakin banyak dan menyesaki ruangan rumah yang sempit itu.

Akan tetapi panasnya sinar mentari tidak seberapa dibanding dengan panasnya debat di rumah itu. Tiga orang pendeta hadir bersama beberapa jamaahnya. Mereka berpendapat bahwa si mayit pemeluk Kristen dan karenanya harus dimakamkan secara Kristen pula.

Sementara tokoh masyarakat, imam mushalla, ustadz dan anak-anak si mayat yang Muslim menolak. Menurut mereka, sebelum si mayit menghembuskan nafasnya yang terakhir, minta kepada Karyadi (50), anaknya yang tertua, berpesan jika dirinya meninggal diurus secara Islam, bukan dengan cara Kristen.

Karyadi menjelaskan panjang lebar tentang hal itu, karena ia dan keluarganya yang merawat hingga detik terakhir hidup ayahnya. Selama itu ayahnya meminta Karyadi “dikembalikan” kepada Islam, agama yang dianutnya dulu.

Argumen Karyadi ditentang mentah-mentah oleh keluarganya yang lain, yang telah memeluk Kristen. Jadilah suasana takziyah itu menjadi semakin panas. Terlebih dengan datangnya peti mayat dan kayu salib yang sudah disiapkan.

Sementara di tempat yang lain telah disiapkan kain kafan dan keranda jenazah.
Suasana pun mencekam dan berdebar. Pentakziah menunggu kebijakan para petinggi agama dan keluarga si mayit mencari jalan terbaik.

“Demi Allah, saya pertaruhkan nyawa saya agar bapak dimakamkan secara Islam,” tandas Karyadi. Karuan saja para pentakziyah tersentak. Apa gerangan yang akan terjadi?

Syukurlah persoalan dapat diselesaikan. Kedua pihak sepakat kompromi. Proses merawat dan pemakaman jenazah dilakukan secara Islam. Sementara iringan jenazah menuju pemakaman diiringi dengan kayu salib yang menyertainya di belakang. Di barisan yang lain warga Muslim melantunkan kalimat tauhid, “La ilaha illallah…la ilaha illallah..la ilaha illallah.” Mereka melantunan secara serentak dan syahdu sembari mengusung keranda dan menuruni bukit yang cukup terjal itu.

Rawan Pemurtadan
Perebutan jenazah itu terjadi di Dusun Tulungrejo, Tamansatrian, Kecamatan Tirtoyudo, Malang, Jawa Timur. Tulungrejo sudah sejak lama menjadi sasaran gerakan pemurtadan. Kontur alamnya yang berbukit, keadaan masyarakatnya yang sebagian besar petani dan peternak penggarap serta berpendidikan rendah, rupanya menjadi sasaran Kristenisasi.

Tirtoyudo merupakan satu dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kecamatan Tirtoyudo sebagian besar penduduknya berprofesi petani. Terdapat 22 gereja di kawasan ini.
Selain petani, sebagian penduduknya memilih menjadi TKI dan TKW di Malaysia, Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi.

Tirtoyudo sekitar 15 Km dari kaki Gunung Semeru. Dan yang paling khas adalah muntahan abu dari aktivitas Gunung Semeru yang terjadi hampir setiap hari. Mayoritas penduduknya dari suku Jawa dan Madura.
Kecamatan ini berbatasan dengan Samudera Indonesia di bagian selatan, Sumbermanjing Wetan dan Dampit di bagian barat, Wajak di bagian utara dan Ampelgading di bagian timur. Tirtoyudo dihuni oleh sekitar 65 ribu jiwa yang tersebar dalam 13 desa.

“Beberapa tahun lalu, kami kerap diajak masuk Kristen,” kata Karyadi yang tinggal di Desa Tamansatrian. “Tak jemu-jemunya kami didekati dan diajak agar berpindah iman,” lanjutnya.

Sebagai orang kampung, Karyadi mengaku tak sanggup dan tak punya dalil untuk menolak ajakan mereka yang berulang-ulang itu. Namun, ia juga yakin bahwa apa yang mereka seru itu batil dan harus ditolak. Ayah dan adik perempuannya termasuk yang termakan bujuk rayu dengan aneka pendekatan. Berulang kali pula mereka datang untuk membujuk diri dan keluarganya agar murtad.

Lantaran gerah dengan sepak terjang mereka, Karyadi yang sehari-hari sebagai petani penggarap dan mencari pasir ini, bertekad melawan dengan caranya. Maka terbetiklah niat untuk mewakafkan lahannya yang terdapat di depan rumah untuk dijadikan mushalla. “Harapan kami dengan adanya mushalla mereka akan berpikir ulang mengajak-ajak,” tegasnya.

Persoalannya kemudian, dari mana mendapatkan uang untuk biaya pembangunannya, sedang untuk kebutuhan makan sehari-hari saja tambal sulam? Karyadi terus berdoa mengharap bantuan Allah Yang Mahakuasa. Alhamdulillah, doanya didengar Allah. Tak berapa lama ada orang yang menawarkan bantuan. Seorang dermawan dari Jakarta tertarik mengunjungi tempat itu dan membantu membangun mushalla. Akhirnya, Mushalla Ar-Rohmah dengan ukuran 7 m x 5 m pun berdiri.

“Semoga suatu hari mushalla ini dapat dilengkapi dengan taman bacaan dan al-Qur’an sehingga jamaah yang datang dari bawah (kota) dan atas (lereng Semeru) dapat istirahat sejenak baca-baca,” kata Karyadi berharap.

Tantangan dan Peluang
Sebagai penduduk setempat, Karyadi mengaku tidak gampang mengajak orang mengikuti ajaran Islam. Selain alasan kesibukan di ladang, latar belakang pendidikan yang minim membuat juru dakwah harus ekstra bersabar. “Kadang kita ajak untuk Yasinan keliling, agar warga Muslim kelihatan guyub dan terlihat syiarnya. Tapi tidak mudah,” ungkap Karyadi sambil tersenyum

Hal serupa dikemukakan oleh Herman (33), dai yang sudah 4 tahun betugas di kawasan tersebut. Tepatnya di Bon B atas. Di tempat Herman sudah berdiri sebuah masjid bernama Al-Husna dan sekolah PG/TK Al-Hidayah. Hanya berjarak 3 rumah di atasnya, terdapat sebuah gereja. Jarak tempat ini dengan kediaman Karyadi sekitar 2 km. Komunitas pemeluk Kristen dan Muslim yang murtad relatif banyak di Bon B ini.

Untuk menarik minat wali murid agar menitipkan anak-anaknya bersekolah di KB-TK Al-Hidayah, Herman membebaskannya dari biaya alias gratis. Selain itu, ada juga santunan sembako dua atau tiga bulan sekali. “Kondisi ekonomi masyarakat memang minus, sehingga selain penyadaran tentang Islam juga ada program riil seperti bantuan sembako,” ujar Herman yang mengaku apa yang dilakukannya belum seberapa jika dibanding dengan para missionaris.

Apa yang dilakukan Karyadi dan Herman setidaknya dapat mengurangi terjadinya pemurtadan di kawasan Tirtoyudo. “Insya Allah, semangat kita dengan Pak Karyadi sama untuk berpadu berjuang membentengi Muslim dari pemurtadan,” terang Herman, dai asal Lumajang yang telah mempersunting gadis setempat ini. Yuk, kita dukung mereka!* Abdullah/Suara Hidayatullah,

author
No Response

Leave a reply "Elegi Pagi Di Lereng Semeru"