Jangan Tinggalkan Mata Pencaharianmu (1)

SEBAGIAN orang yang melangkahkan kakinya ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai keinginan untuk meninggalkan amal dunia demi memfokuskan dirinya dalam beribadah. Hal ini dapat kita jumpai pada kehidupan orang zuhud, orang yang menyuarakan agama Allah, dan para alim ulama.

Keinginan untuk meninggalkan pekerjaan di dunia terkadang berasal dari nafsu jiwa, bukan murni dari keinginan akhirat. Sebenarnya mereka ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia, namun ditempuh dengan jalan mendakwahkan ajaran Allah.

Atau mereka ingin mendapatkan pertolongan dari orang lain, maka mereka mengambil cara menyibukkan diri dengan ilmu. Atau mereka ingin menjadi orang terkenal, maka mereka mengambil jalan dengan menyeburkan diri ke dalam zuhud dan beribadah. Yang jelas, semua sikap ini bukanlah karakteristik para ulama saleh.

Lihatlah proses hijrah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ke Madinah. Bagaimana beliau melakukan usaha dengan sungguh-sungguh dan bagaimana beliau melalui proses perjalanan yang kecil ataupun yang besar –padahal semua sikap Nabi dituntun oleh wahyu. Kemudian setelah itu, beliau menyerahkan semua perkaranya kepada Allah Ta’ala.

Ketika beliau sudah melakukan usaha untuk hijrah ke Madinah dan orang-orang kafir berdiri di gua, maka apa yang dilakukan Nabi pada waktu itu? Abu Bakar Ash-Shiddiq mengisahkannya, “Aku melihat kaki orang-orang musyrik dan kami berada di dalam gua, sedangkan mereka di atas kita. Kemudian aku berkata kepada Nabi, “Wahai Rasul, jika salah satu dari mereka menatapkan pandangannya ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita.” Nabi menjawab, “Apa yang kamu kira wahai Abu Bakar dengan kita berdua. Sesungguhnya Allah adalah yang ketiga bersama kita.” (HR Muslim).

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan diri agar mendapatkan kemenangan di jalan Allah, baik dengan jiwa atau pun dengan harta benda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah.” (Al-Anfal: 60)

Mengambil sebab-sebab (berusaha) terkadang dihukumi wajib apabila sesuatu tidak bisa disempurnakan kecuali dengan usaha tersebut. Memang benar, dakwah kepada Allah membutuhkan kekosongan jiwa. Hidayah Allah membutuhkan kejernihan hati, menuntut ilmu membutuhkan kelonggaran waktu, dan meningkatkan kesucian ruh untuk beribadah membutuhkan waktu yang banyak. Akan tetapi, orang-orang yang berakal menghiasi waktunya dengan mengurusi segala urusan dunianya, merealisasikan tuntutan hidupnya, dan memberikan hak-hak istri serta anak-anaknya.

Yang dimaksud dengan “kosong” di sini adalah memfokuskan hati beribadah kepada Allah. Para ulama salafus-shaleh bekerja dan berusaha mencari rezeki. Bahkan sebagian dari mereka tidak ridha untuk makan kecuali hasil dari keringatnya sendiri.

Setiap saat, mereka selalu meminta kepada Allah untuk tidak menghinakan wajahnya dengan meminta kepada orang lain.

Jadi, yang benar adalah kita harus berusaha untuk mendapatkan rezeki yang sudah ditentukan oleh Allah untuk kita. Akan tetapi, beribadah kepada Allah dan mendakwahkan ajaran-Nya harus mendapatkan prioritas yang lebih besar. Sedangkan kesibukan dunia jangan sampai memenuhi hati. Dan jadikanlah kesibukan kita sebagai amal saleh sehingga dapat menjaga harga diri, membantu orang-orang yang membutuhkan, dan melakukan sedekah di jalan Allah.*/Syaikh Khalid Sayyid Rusyah dari bukunya Nikmatnya Beribadah.

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Jangan Tinggalkan Mata Pencaharianmu (1)"