Kebaikan dan Keburukan Takkan Bersatu (1)

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Surah al-Maidah [5]: 100)

Meski berusia singkat, namun sesungguhnya dunia adalah panggung pertarungan abadi. Di sana bercokol dua kekuatan yang berusaha saling mengalahkan sesama lainnya. Ada kebaikan yang diusung oleh barisan manusia-manusia yang taat, sedang di waktu yang sama ada parade keburukan yang didukung oleh mereka yang ingkar kepada Sang Pencipta.

Kisah klasik ini berawal sejak masa Nabi Adam yang sudah berhadapan dengan tipu daya dan perangkap yang sengaja dibuat oleh Iblis ketika itu. Selanjutnya kehidupan manusia hingga Hari Kiamat nanti tak lepas dari dua hal tersebut. Yaitu adanya pilihan mendaki jalan terjal kebaikan yang berujung kepada keselamatan, atau sebaliknya, menyusuri lorong-lorong keburukan yang justru mencelakakan dirinya sendiri kelak.

Tak terkecuali pada ayat di atas, dengan kasih sayang dan keluasan ilmu-Nya, Allah kembali mengulang warning tentang perbedaan yang sangat jelas antara dua hal tersebut. Ibarat sekumpulan air dan minyak, tetap saja di sisi Allah kebaikan itu tak akan sama dengan keburukan yang dilakukan. Kebaikan dan ketaatan adalah harga mati bagi orang beriman untuk menapakinya.

Makna Ayat

Ayat ini adalah rangkaian episode Allah yang dijabarkan secara deduktif di beberapa ayat dalam surah al-Maidah. Dimulai dari ayat sebelumnya tentang permakluman adanya balasan yang pedih (syadid al-iqab) sebagai kehendak mutlak Allah dan sifat-Nya Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (ghafurun rahim) kepada seluruh hamba-Nya. Selanjutnya Allah mematok batas antara ketaatan yang wajib diikuti dan perbuatan maksiat yang patut dihindari oleh manusia.

Terakhir, dalam ayat di atas, secara terang Allah mengabarkan perbedaan mendasar antara kebaikan dan keburukan serta peringatan untuk kokoh memegang kebenaran dan kebaikan tersebut. Sebab hanya kebaikan dan ketaatan saja yang bisa mengantar kepada kegemilangan hidup di dunia dan akhirat. Demikian Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya, Tafsir Mafatih al-Ghaib.*/Oleh Masykur, pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Kebaikan dan Keburukan Takkan Bersatu (1)"