Kebaikan dan Keburukan Takkan Bersatu (2)

Secara umum, kebaikan dan keburukan itu terbagi dua, ada yang bersifat jasmani dan ruhani. Menurut ar-Razi, seburuk-buruk keburukan secara ruhani adalah kebodohan dan perbuatan maksiat. Sedang puncak dari kebaikan seorang Muslim secara ruhani ketika mengenali Allah (makrifatullah) dan larut dalam ketaatan serta ibadah kepada-Nya.

Hal itu terjadi sebab anggota tubuh manusia yang terciprat noda najis akan menjadi hina di hadapan fisik yang sehat dan bersih dari kotoran. Perihal yang sama berlaku bagi ruhani seorang Muslim. Jiwa hamba yang kumal gara-gara kejahilan tentang Allah atau berpaling dari al-Qur’an niscaya merasa risih jika bersinggungan dengan hati-hati yang suci lagi dekat dengan Allah.

Ar-Razi berpendapat, menilik dampak yang ditimbulkan, rupanya keburukan yang timbul akibat kejahilan dan maksiat itu punya pengaruh besar dalam perjalananan ruhani keimanan seorang Muslim. Sebaliknya, jiwa yang terus dipercantik dengan amal kebaikan niscaya mampu merasakan kelezatan iman yang dipunyai. Ia tak hanya disenangi oleh makhluk dengan akhlak dan amal kebaikannya. Namun juga bisa mendekatkan dirinya kepada Rabb al-Alamin.

Sebagai balasan, Allah juga sudah menyiapkan kedudukan mulia di sisi para malaikat bagi mereka yang gemar melakukan kebaikan kepada sesama. Serta kedekatan khusus dalam jejak barisan syuhada, kumpulan nabi-nabi, orang-orang jujur. Sebab mereka dikenal dengan keshalihannya selama ini.

Ilmu yang Memberi Rasa Takut

Dahsyatnya benturan nilai dan peradaban di atas juga terlukis dalam ayat di atas. Tiba masa kelak, di mana kebaikan itu menjadi sesuatu yang sulit dikenali. Sedang keburukan adalah hal yang lumrah terjadi di tengah masyarakat. Pada masa fitnah tersebut, keburukan tak hanya meng-hegemoni manusia dengan jumlah yang dominan (katsrah al-khabits).

Pun ia juga mengepung umat Islam dengan ragam jebakan dan tipuan yang dipunyai. Tak sedikit bahkan keburukan itu menjadi sesuatu yang indah dipandang dan nikmat dirasakan (lau a’jabaka). Akibatnya, manusia tak lagi risih mendekati kemaksiatan dan keburukan tersebut. Tak heran justru decak kagum dan penghargaan yang muncul dari orang-orang di sekelilingnya. Ironis, tapi inilah fenomena yang terjadi. Kemaksiatan kini menjadi kebanggaan yang dielukan sesama manusia.

Untuk itu, mufassir terkenal Abdurrahman bin Nashir lalu mengingatkan dalam Tafsir as-Sa’di, di masa itu tak ada yang lebih bermanfaat kecuali ilmu yang mengantar kepada takwa yang sesungguhnya. Sebab hanya rasa takut kepada Allah yang mampu menahan diri seseorang untuk bertahan dalam kebaikan yang ia yakini sebelumnya. Rasa takut yang demikian itulah yang sanggup menghadirkan kemahakuasaan Allah bahwa kelak ada ganjaran setimpal atas segala perbuatan yang telah dikerjakan.

Senada, Imam asy-Syaukani al-Yamani, pengarang kitab Tafsir Fathu al-Qadir menguatkan alasan, mengapa kebaikan itu tak akan pernah sama dengan keburukan. Sebab meski kuantitas pelaku keburukan itu menyebar, tetap saja yang buruk dihukumi nol di sisi Allah. Sebab perbuatan yang tercemari dosa bisa menghapuskan manfaat yang dimilikinya. Sebagaimana keberkahan amal itu musnah tak bersisa akibat maksiat yang dikerjakan.

Mujahadah Tanpa Batas
Bagi orang beriman, keberuntungan hidup (al-falah) adalah capaian tertinggi dalam hidup mereka (muflihun). Sebab keberuntungan itu bermakna keselamatan di dunia dan di Hari Pembalasan nanti. Ini pula yang dijanjikan oleh Allah dalam perkara memilah kebaikan dan keburukan tersebut. Alih-alih menganggap kebaikan itu sebagai kesesuaian tradisi setempat atau perkara suka atau tidak suka dengan perbuatan baik dan buruk yang dimaksud. Nyatanya, sikap tersebut bisa menentukan nasib seseorang jauh hingga hari kiamat nanti. Ia berfungsi sebagai barometer efek keimanan yang dipunyai.

Uniknya, isyarat mujahadah itu lahir dari analogi seorang petani (fallahun) dalam ayat di atas. Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal rupanya sang petani tak pernah berleha-leha dalam bekerja. Hari masih gelap kala sang petani keluar dari rumahnya untuk membajak sawah. Tiba masanya, ia lalu mulai menabur benih yang telah disiapkan.

Selanjutnya ia bersusah payah menanam dan harus bersabar menunggu hasil yang telah ditanam itu. Belum lagi menjaga soal pasokan air irigasi yang cukup dan teratur. Tak lupa sang petani juga wajib memastikan tanamannya tak diserang oleh hama atau gulma yang mematikan itu.

Pendek kata, tak mudah mengenali kebaikan di sela tumpukan keburukan di penghujung zaman penuh fitnah ini. Sebagaimana mengilmuinya saja juga tak cukup tanpa meneladani kebaikan dan menolak keburukan itu. Pun ditambah dengan amanah dakwah untuk mengajarkan kebaikan dan menjauhkan manusia dari kemaksiatan. Sebab sekali lagi, iman adalah proses yang bergerak. Ia adalah keyakinan kokoh dalam aktualisasi akhlak dan amal shalih seorang Muslim secara nyata. Oleh Masykur, pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Kebaikan dan Keburukan Takkan Bersatu (2)"