Keteduhan Itu Bernama Ketaatan

No comment 312 views

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan [25]: 74)

Muqaddimah
Abdurrahman bin Jubair bercerita, “Suatu ketika kami duduk bersama al-Miqdad bin al-Aswad. Tiba-tiba seorang lelaki berlalu di hadapan kami sambil berkata, ‘Duhai, alangkah beruntungya kedua mata yang sempat melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW). Sekiranya kami juga bisa menyaksikan apa yang telah ia saksikan.’ Mendengar hal itu, Sahabat al-Miqdad terlihat geram. Saya merasa heran, sebab apa yang orang itu katakan tak lain semuanya benar.”
Al-Miqdad lalu menjelaskan, “Apa yang membuat orang itu berharap hadir ketika Allah telah menetapkan baginya untuk tidak hadir. Padahal ia tidak tahu apakah jika ia hidup bersama Nabi SAW maka ia pasti beriman. Demi Allah begitu banyak kaum yang hidup bersama Nabi SAW, tapi mereka justru tak beroleh hidayah hingga akhirnya tergelincir dan masuk ke dalam jurang neraka. Mengapa kalian tak bersyukur telah dicukupkan dari ujian berat yang dialami oleh kaum terdahulu. Kalian lahir dalam keadaan beriman kepada Allah dan mempercayai Nabi SAW utusan Allah.”

Sungguh Allah mengutus Nabi Muhammad SAW pada masyarakat jahiliyah yang sangat bobrok. Mereka menyembah berhala dan menganggapnya lebih baik daripada beribadah kepada Allah. Hingga datang Nabi SAW utusan Allah sebagai pembeda antara yang haq dan batil. Nabi SAW bahkan menjadi pemilah antara anak dan orangtuanya disebabkan urusan keimanan yang begitu pokok ini. Sungguh mereka benar-benar tidak sampai hati jika mengetahui ada di antara saudara dan keluarga mereka yang masih kafir. Untuk itu, para Sahabat lalu saling berlomba memperbanyak doa yang terdapat dalam ayat ini. (Musnad Imam Ahmad, dengan sanad yang sahih)

Makna Qurratu a’yun
Suatu hari Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullahu ditanya tentang ayat di atas. Ia lalu menjawab, “Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah, tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratu a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.”

Ikrimah menambahkan, bukan kegagahan rupa yang menjadikan pandangan mata itu teduh, namun keteduhan itu diperoleh dengan ketaatan seorang hamba dan orang-orang yang dicintainya.

Selain menjadi harapan melihat ketaatan dari orang-orang yang dicintai, mereka juga pada dasarnya adalah objek dakwah yang paling dekat. Lebih jauh Sayyid Quthub menerangkan, keluarga memiliki hak yang paling besar mendapatkan dakwah dari seseorang dan hendaknya amanah itu ditunaikan sebelum ia dimintai pertanggungjawaban kelak. Allah mengingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim [66]: 6)
Tak heran, Nabi SAW bersedih hati ketika menyaksikan kematian Abu Thalib yang begitu tragis. Meski dengan gigih Nabi SAW berusaha menuntun pamannya berucap kalimat syahadat. Tapi rupanya takdir berkehendak lain, Abu Thalib justru memilih mati dalam keadaan kufur.

Nabi SAW bersedih, sebab beliau sangat paham, apalah arti sebuah kebaikan jika tak berbalut dengan keimanan kepada Allah. Nabi SAW menyadari jika pundaknya memikul amanah mendakwahi Abu Thalib, sosok pengganti kedua orangtuanya.

Berkah Mendapat Keturunan Baik
Anak saleh adalah harta yang tak ternilai harganya. Bisa dijamin setiap orangtua sepakat dengan ungkapan tersebut. Siapa pun dia, tanpa memandang status sosial, pendidikan, serta kekayaan. Mereka semua punya keinginan yang sama, mendamba lahirnya anak dan keturunan yang saleh. Sebab anak yang saleh berguna di dunia, terlebih lagi ia menjadi bekal tabungan orangtua di hari Kiamat kelak.

Suatu kebaikan yang berlanjut tentu lebih utama daripada amalan yang terputus. Semakin langgeng suatu amalan makin banyak pula orang yang mencicipi kebaikan itu. Karenanya, mufassir ternama Abdurrahman as-Sa’diy dengan terang menyatakan, sesungguhnya doa meminta keturunan yang baik bukan ditujukan kepada orang lain. Sebab sejatinya pahala kebaikan tersebut niscaya berpulang kepada orangtua itu sendiri. Hal ini sebagaimana dikuatkan dalam Hadits Rasulullah SAW, “Jika seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalannya, kecuali pada tiga perkara. Sedekah jariyah (yang mengalir), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya.” (Riwayat Muslim)

Kepemimpinan dalam Islam
Dalam syariat Islam, jabatan pemimpin bukanlah sesuatu yang layak dikejar dan diminta. Ia juga tidak perlu diklaim oleh seseorang. Sebab, pemimpin yang benar justru lahir ketika nilai-nilai ketakwaan itu bersemi dalam diri seorang Muslim. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu berkata, seseorang disyariatkan berdoa dan meminta dengan doa tersebut, sebab di sana terkait dengan pemimpin yang senantiasa mendapatkan hidayah. Sesuatu yang mahal dan sangat dibutuhkan di tengah masyarakat.

Senada dengan hal di atas, Ibrahim an-Nakha’i Rahimahullahu juga menjelaskan, seorang Muslim tidaklah pantas meminta kepada Allah untuk dijadikan sebagai pemimpin. Kecuali ia meminta dijadikan sebagai qudwah (panutan) bagi orang-orang beriman dalam urusan agama.
Inilah rahasia kepemimpinan di era para ulama saleh terdahulu (as-salaf ash-shalih). Meski di antara mereka bukanlah sebagai pemimpin di tengah masyarakat, namun kiprah keteladanan mereka di tengah umat menjadikan kaum Muslimin tak ragu menyematkan gelar imam kepada para ulama tersebut. Sebagai contoh, sebut saja di antaranya Imam asy-Syafi’i, Imam ath-Thabari, Imam al-Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. Mereka semua bergelar “imam” bukan karena mereka seorang pemimpin secara jabatan. Namun lebih disebabkan akan keilmuan dan keteladanan mulia yang melekat kuat pada dirinya.

Penutup
Bagi seorang Muslim, meraih predikat takwa bukanlah semudah membalik telapak tangan, doa saja tak cukup untuk itu. Terlebih jika ingin memperoleh gelar imam (pemimpin) di kalangan orang-orang yang bertakwa. Hal itu merupakan puncak kenikmatan dalam kehidupan ini. Sebab di saat seorang Muslim asyik beramal saleh untuk dirinya, niscaya ketaatan dan keteladanan itu juga memantul kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka tak lagi risih mencontoh kebaikan tersebut karena ia memang layak untuk ditiru. Alhasil, akan lahir “persaingan” saling berlomba menebar kebaikan yang berujung pada pahala yang mengalir kepadanya tanpa kenal kata putus.* Masykur, pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Keteduhan Itu Bernama Ketaatan"