Ketika Menyusuri Sungai dan Menembus Hutan Belantara

PAGI menjelang siang. Beberapa anak berkumpul di sebuah rumah semi permanen. Tempat tumpangan ini diberi nama TPA Darul Ilmi dan dipakai untuk belajar mengaji. Mereka tertawa riang. Pasalnya, mereka akan mendapatkan al-Qur`an.

Ustadz Sandriyansyah, yang biasa mengajar ngaji mereka, memberi aba-aba supaya anak-anak duduk rapih dan tenang.

“Saya guru ngaji di sini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan al-Qur`an dari pewakaf. Semoga Allah mencatat sebagai amal jariyah yang terus mengalirkan pahala. Dan semoga Yayasan Wakaf Suara Hidayatullah semakin bermanfaat bagi masyarakat, terutama di pelosok negeri,” ujar Sandriyansyah.

Kemudian salah seorang santri maju ke depan. ”Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan al-Qur`an terjemahnya, amat bermanfaat. Semoga kami menjadi generasi qur`ani yang akan menebarkan kebaikan,” kata Abdurrohman.

Menurut Faruq Abdullah, ustadz yang aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial ini, Dusun Suka Ramai, Desa Sungai Ceper adalah sebuah desa terisolasi karena berada di tepian sungai. Sebagian besar desa yang masuk Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan ini daerahnya berawa-rawa, meski ada sebagian yang daratan. Mata pencahariannya rata-rata buruh dan berkebun karet, yang harganya anjlok dan tidak mampu menopang kehidupan ekonomi masyarakatnya.

“Penerangan masih susah. Tingkat pendidikan rendah serta tidak adanya akses informasi karena jaringan telekomunikasi tidak ada. Sehingga membuat masyarakatnya terbelakang. Apalagi dengan minimnya dakwah, maka masyarakatnya masih banyak yang awam terhadap nilai agama,” papar Faruq.

Untuk mencapai desa ini hanya menggunakan moda transportasi motor air (motor klotok) selama 3 jam perjalanan dan dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 2 jam. Itu jika musim kemarau. Jika musim hujan lain lagi ceritanya, bisa berhari-hari.

“Tiga jam itu dari perbatasan Desa Wiralaga. Nah, di Wiralaga itu ada semacam dermaga motor air yang melayani rute ke Suka Ramai,” jelas Faruq, anak pasangan dari Ismail Abdul Syukur dan Satria kepada pengurus Yayasan Wakaf Al-Qur`an Suara Hidayatullah (YAWASH).

Oleh karena itu, Faruq mempunyai inisiatif membina masyarakat secara bertahap serta mengajak mereka kembali kepada al-Qur`an.

“Insya Allah, jika al-Qur`an dijadikan landasan hidup, maka akan terbentuk masyarakat Islami dan mampu membentengi masyarakat dari kemaksiatan, dan perkara buruk lainnya,” ujar Faruq optimis.

Menurutnya, penyebaran al-Qur`an juga akan mampu membuat kajian-kajian, tilawah-tilawah, serta majelis taklim ibu-ibu kembali aktif dan berkesinambungan.

Kata pria kelahiran Mesuji Ogan Komering Ilir, 6 Nopember 1986 ini, masih ada 4 desa yang berdekatan dengan Desa Suka Ramai dan masyarakatnya butuh pembinaan, terutama anak-anak.

“Jaraknya jauh-jauh, ada sekitar 100 murid binaan. Kesulitan kami tidak ada dai atau guru ngaji, selain tidak memiliki kendaraan operasional untuk mendatangi tempat-tempat mereka. Jika ada kaum Muslimin yang bersedia membantu pengadaan sepeda motor, maka kami sangat terbantu,” ujar lulusan SMA Negeri 01 Abung Barat, Lampung Utara, ini.

Sementara itu, Dadang Kusmayadi, Ketua Yayasan Wakaf Al-Qur`an Suara Hidayatullah, mengajak kaum Muslimin untuk beramal jariyah yang terbaik, sembari mengutip sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.

Menurut Dadang, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur`an. Bulan di mana setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya.

“Allah karuniakan 1 huruf bacaan al-Qur`an dengan 10 pahala kebaikan,” ujarnya.

“Mari gunakan untuk berinvestasi akhirat yang terbaik dengan beramal jariyah. Jangan sampai lewatkan ladang amal ini. Satu, dua atau berapa pun al-Qur`an yang diwakafkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan di pelosok Nusantara,” kata Dadang.*

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Ketika Menyusuri Sungai dan Menembus Hutan Belantara"