Membumikan Al Qur’an di Dusun Rio

No comment 408 views

Penyerahan kepada warga dusun Rio

Dusun Rio, Desa Bone Marawa, sekitar 30 kilometer dari kota kecamatan Rio Pakava ke arah tenggara Kabupaten Mamuju. Dari  ibukota kecamatan menuju dusun ini menghabiskan waktu lebih kurang 3 jam, dengan menggunakan kendaraan yang tidak sembarangan. Hanya dengan sepeda motor yang sudah dirancang khusus atau mobil double handle yang bisa digunakan menuju lokasi dan itupun hanya sampa di ujung dusun Lalundu 6. Selanjutnya perjalanan dari dusun Lalundu 6 ke dusun Rio ditempuh dengan jalan kaki.

Sungai kecil ini sekaligus alternatif tunggal menuju RioUntuk sampai di dusun Rio diperlukan kondisi fisik dan nyali lebih, sebab selain harus melewati jembatan gantung yang sudah reot, hutan lebat Desa Bone Marawa siap menyambut.
Selanjutnya perjalanan akan menyusuri derasnya sungai kecil berbatu di lembah dengan rimbunan hutan yang masih asli. Kemudian melintasi jembatan gantung kedua sepanjang 40 meter yang terbuat dari selembar papan yang sudah tidak utuh lagi, dan hanya diikat  dengan kawat seadanya.

Selembar papan cukup menghubungkan pengunjung ke dusun para mualaf
Saat ini Dusun Rio terdapat 24 warga yang tetap tinggal. Sebelumnya melalui program transmigrasi pemerintah menyediakan rumah sebanyak 50 buah. Namun karena kebiasaan penduduknya menjadi peramba hutan dan  berpindah-pindah,  maka sebagian besar penduduknya  lebih suka kembali ke kebun-kebun dan menetap di sana.
Desember tahun lalu Tim YAWASH berkunjung ke lokasi dan menjumpai  sebagian warga Dusun Rio yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Tentunya kondisi ini menyulitkan kami berkomunikasi. Dan kami baru dapat berkomunikasi dengan mereka saat ada warga yang menterjemahkan  bahasa mereka, itu pun dengan dialeg yang belum akrab di telinga kami.
Saat itupun, kami hanya mendapati dua anak kecil di dusun ini. Anak-anak yang lain  sedang membantu menanam padi gunung di kebun seorang guru sekolahnya. Menurut pengakuan salah seorang wali murid di Dusun Rio, sudah tiga bulan anak-anak mereka tidak sekolah tanpa alasan yang jelas.
Beberapa upaya peningkatan ekonomi sudah pernah berjalan, namun kendala jarak dan transportasi dalam pemasarannya sehingga program ini kembali terhenti.
Abdy Roziqin dai yang tinggal di dusun ini mencerikatan“Dakwah di pedalaman seperti ini memang dibutuhkan dai yang mumpuni baik dari fisik, mental spiritual ataupun secara ekonomi.” Sebab keterbatasan bahasa dan rata-rata warga yang tunaaksara akan menjadi uji kesabaran tersendiri, termasuk dalam mengajarkan al Quran.
Cerita menarik lain dari Abdi Roziqin, kalau ia akan berkhutbah di pedalaman-pedalaman,  ia harus berangkat di awal pagi. Selain membutuhkan waktu yang lama untuk menjangkaunya,  juga sebelum  shalat Jumat, ia harus berkeliling ke rumah-rumah penduduk memberikan pengumuman. Sebab kalau tidak, mereka mengira tidak ada dai yang datang untuk jadi khotib dan imam, sehingga mereka  memilih shalat Zhuhur di rumah masing-masing.
Menurut penuturan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Rio Pakava, Muhammad Halimi, S.Ag. ia bersyukur sejak lima tahun terakhir nuansa dakwah mulai menggeliat. Ditambah dai-dai yang ikhlas berdakwah, serta gerakan wakaf al-Qur’an dari Hidayatullah membuat lengkaplah kesyukurannya. Dan kini  dengan adanya program wakaf al-Qur’an dari Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH),  kegiatan belajar baca tulis al-Qur’an dan majelis-majelis taklim mulai aktif meski masih berjalan seadanya.

Penyerahan kepada warga dusun OwuSelain adanya sarana al Quran, untuk menarik jamaah Abdi Rozikin terkadang harus datang membawa pakaian layak pakai dari kota, atau memborong pakaian obral stok lama di toko  untuk dibagikan usai taklim di daerah binaan seperti ini,” papar Roziqin memberikan kiat dakwahnya agar menarik jamaah.
Meski di wilayah kecamatan sudah ada tiga pesantren yang turut memberikan pencerahan ke masyarakat, namun masyarakat masih menaruh harapan besar kepada YAWASH untuk melakukan pembinaan di wilayah ini.
“Mudah-mudahan kerjasama wakaf al-Qur’an dengan Hidayatullah ini berlanjut terus  sampai ke program pembinaan,” harap pria asal Demak ini.*

author
No Response

Leave a reply "Membumikan Al Qur’an di Dusun Rio"