Menghisab Diri, Sebelum Dihisap

No comment 639 views

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr [59]:18)

Mukaddimah
Ayat tersebut terdapat pada surah al-Hasyr (pengepungan), sebagai salah satu surah Madaniyah. Nama surah ini diambil dari peristiwa pengepungan Bani Nadhir, sebuah kelompok garis keras Yahudi di luar kota Madinah.

Ayat ini menceritakan sikap seorang Muslim dalam menjalani perputaran waktu di dunia. Sebab, masa adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia di dunia. Bagi seorang Muslim, masa silam adalah sejarah. Ia adalah wasilah untuk melakukan evaluasi terhadap perbuatan yang dilakoni sekarang, dan menuju apa yang diharapkan di masa akan datang.

Dalam banyak ayat, Allah menerangkan urgensi waktu bagi kehidupan manusia. Pada sejumlah ayat, Allah bahkan sampai bersumpah dengan beberapa waktu yang ada, semata sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak berleha-leha apalagi sampai terpedaya di dalamnya. Imam Hasan al-Bashri, seorang tabi’in menyatakan, “Wahai anak cucu Adam, tidak lain engkau adalah hari-hari, ketika hari itu pergi maka sebagian dirimu telah pergi.”

Makna Ayat
Tak seorang pun mengingkari jika perjalanan keimanan seorang Muslim membutuhkan bekal yang sangat banyak. Fenomena fasilitas dunia dengan segala isinya rupanya tidak sekadar menjadi sarana menebarkan kebaikan. Tapi ia juga bisa berubah menjadi godaan yang seringkali membuat manusia berpaling dari keimanannya.

Lewat ayat ini Allah menerangkan, hendaknya seorang Muslim sesekali berhenti sesaat dari menempuh perjalanan kehidupan ini, lalu berpikir arah yang sementara ditempuh. Benarkah masih menjalani rute yang benar atau justru telah menyimpang dari patokan yang sebenarnya?

Seorang Muslim tak bisa terlepas dari melakukan evaluasi diri (muhasabah). Ia menjadi bagian penting dalam hidup. Lebih dari itu, Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan, muhasabah saat ini sudah menjadi kebutuhan primer seseorang. Dengannya, ia bisa mengukur diri, mengetahui segala perbuatan yang selama ini dilakukan. Amalan apa saja yang ia sudah lakukan sebagai persiapan menuju hari akhirat. Sekiranya hal itu baik, maka dengan muhasabah niscaya ia semakin yakin untuk terus istiqamah dan semakin meningkatkan kualitas kebaikan tersebut.

Sebaliknya, ketika mendapati perbuatannya adalah sesuatu yang melanggar syariat agama, lewat muhasabah, seorang Muslim diajak berpikir ketika ingin melakukan kemaksiatan. Sebab, ia sadar betapa nikmat Allah sudah begitu banyak tercurah padanya. Suatu hal yang tidak sebanding dengan dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan. Alhasil, ia menjadi malu kepada Allah untuk mengulang perbuatannya tersebut.

Butuh Perencanaan
Berbuat tanpa persiapan sama halnya menyiapkan suatu kegagalan. Ungkapan ini mungkin cocok untuk menggambarkan pentingnya sebuah persiapan dalam bekerja. Melalui ayat ini, Allah juga mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu berpikir matang sebelum berbuat. Tak ada amalan tanpa didahului dengan ilmu. Amalan yang tak berdasar dengan ilmu kerap hanya menjadikan pelakunya terseret kepada amalan berdasarkan syahwat (menuruti hawa nafsu) atau justru ia terjebak dalam syubhat (amalan yang dilandasi keraguan). Jika dalam urusan dunia kita diperintahkan untuk memiliki persiapan sebelum berbuat, apalagi ibadah yang berujung kepada urusan akhirat.

Kiamat Sudah Dekat
Imam Abdullah bin Ahmad yang populer dengan sebutan al-Qurthubi menyebutkan, kata al-ghad (besok) pada ayat ini bermakna Hari Kiamat. Umumnya, masyarakat Arab menggambarkan masa yang akan datang dengan kata besok. Dikatakan pula, penyebutan kata “besok” sebagai peringatan dari Allah jika benar-benar Hari Kiamat tersebut telah dekat. Bukan sebuah masa yang berjarak jauh dengan kehidupan manusia.

Imam Qatadah menambahkan, Allah sengaja mendekatkan hari Kiamat hingga ia menjadikannya seakan-akan hal itu terjadi pada keesokan harinya. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah menggambarkan kedekatan peristiwa itu dengan merapatkan dua buah jarinya. “Aku diutus dan Hari Kiamat itu (begitu dekat) layaknya (kedekatan) dua jari ini. Nabi lalu merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Riwayat Muslim).

Pembicaraan tentang kiamat sudah dekat seringkali menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Sebab, Hari Kiamat adalah suatu hal yang belum pernah terjadi dan terbayangkan sebelumnya. Sayangnya, tak sedikit di antara mereka yang luput dari substansi permasalahan. Mereka lalu ramai-ramai meramal kapan kiranya peristiwa maha dahsyat itu terjadi. Sebagian ada juga yang coba-coba mendeskripsikan kejadian tersebut. Menuangkannya dalam berbagai imajinasi dan khayalan tanpa batas.

Dalam syariat Islam, urgensi membincangkan kiamat tak lain adalah persiapan menghadapi kejadian tersebut. Oleh karenanya, dalam ayat di atas selain sebagai ajakan untuk muhasabah diri, pesan terpenting lainnya tak lain adalah pesan takwa sebagai modal dasar menjalani kehidupan ini.

Imam al-Qurthubi menambahkan, sebagai penguatan makna takwa pada ayat ini Allah kembali mengulang perintah takwa sebanyak dua kali, tetapi dengan substansi makna yang berbeda. Perintah takwa pertama adalah perintah bertobat atas segala dosa dan kekhilafan di masa yang lalu. Sedang perintah takwa kedua sebagai upaya untuk menghindari kemaksiatan di masa yang akan datang.

Sebagai pondasi awal kehidupan, tentunya tak ada kebahagiaan atau kesuksesan hidup tanpa didasari dengan ketakwaan. Seorang Muslim yang benar-benar menjalankan syariat Islam, niscaya merasakan adanya nilai-nilai takwa dalam dirinya. Sebab, hal itu telah dijanjikan oleh Allah untuk memberikan “hadiah” bagi siapa saja yang berupaya meraih predikat tertinggi itu. Dalam kehidupan dunia misalnya, adanya jaminan Allah atas urusan kehidupan yang mudah, tambahan ilmu yang penuh berkah, serta rezeki yang melimpah.

Bahkan sampai-sampai asal muasal rezeki tersebut seringkali menjadi suatu yang tak terduga asalnya. Sedang hadiah di hari akhirat, niscaya orang-orang bertakwa itu memperoleh janji terbesar berupa surga dan melihat langsung Sang Khalik semesta alam.

Tak Mesti dengan Ritual
Sejatinya, setiap Muslim butuh muhasabah. Karena itu, ia tak mesti menunggu momen tertentu untuk melakukan muhasabah diri. Alih-alih menunggu momen dengan pelaksanaan ritual tertentu, hendaknya muhasabah dilakukan sebelum dan setelah melakukan suatu amalan.

Pertama, muhasabah diri dilakukan sebelum beramal, sebagai upaya untuk memastikan keikhlasan hati dalam berbuat. Sekaligus untuk mengukur kemampuan diri terhadap pekerjaan tersebut.

Kedua, usai beramal, seorang Muslim dianjurkan untuk muhasabah kembali. Sebagai evaluasi diri terhadap hasil yang telah dicapai dengan amalan itu. Senada dengan hal itu, Umar bin Khaththab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab nantinya.” *Masykur, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariat (STIS) Balikpapan.

author
No Response

Leave a reply "Menghisab Diri, Sebelum Dihisap"