Menikahkan Para Bujang

No comment 357 views

FIRMAN Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

Dan, kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba hamba sahaya kalian yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya.” (An-Nur: 32).

Al-Ayama jama’ dari al-aim, artinya laki-laki yang tidak memiliki istri atau wanita yang tidak memiliki suami. Jadi lafazh ini berlaku untuk lelaki dan wanita yang tidak menikah. Sedangkan seruan ditujukan kepada para wali dan pemimpin.

Ada yang berpendapat, ditujukan kepada para suami. Namun pendapat pertama yang lebih benar. Di sini terkandung dalil bahwa wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri.

Diriwayatkan dari Aisyah, dari Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil.”

Beliau mengucapkannya tiga kali.

Hadits ini ditakhrij Abu Daud dan At-Tirmidzy. Ada riwayat lain dari Abu Musa, yang dimarfu’kan, “Tidak ada nikah tanpa wali.”

Menurut Ibnu Abbas, Allah menganjurkan mereka menikah dan menjanjikan kecukupan bagi mereka.

Abu Bakar berkata, “Taatlah kepada Allah tentang nikah yang diperintahkan kepada kalian, niscaya Dia akan memenuhi bagi kalian kecukupan seperti yang dijanjikan-Nya kepada kalian.”

Umar bin Al-Khaththab berkata, “Aku tidak pernah melihat seperti halnya seseorang yang mencari kekayaan dengan cara menikah, karena Allah sudah menjanjikan hal itu, dengan berfirman, “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang seperti itu pula. Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Nikahkanlah para wanita, karena mereka datang kepada kalian sambil membawa harta.”

Ditakhrij Al-Bazzar, Ad-Daruquthny, Abu Daud di dalam Marasil-nya dari Urwah secara marfu’.

FirmanNya, “Dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya kalian yang wanita.” Kelayakan di sini ialah iman dan kemampuan memenuhi hak-hak pernikahan, atau janganlah terlalu kecil (usianya) yang belum tahu pernikahan.

Kelayakan tidak disebutkan untuk orang-orang merdeka, karena biasanya yang terjadi, para budak lebih banyak yang tidak memiliki kelayakan untuk menikah. Di sini terkandung dalil bahwa budak tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Yang menikahkannya adalah tuannya. Namun tuannya tidak boleh memaksa budak laki-laki dan budak wanitanya untuk menikah.

Menurut Malik, boleh. Namun pendapat pertama yang lebih benar, dan ini merupakan pendapat jumhur.

Firman-Nya, “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya.” Artinya, janganlah kalian menghalangi pernikahan orang-orang merdeka dari lelaki dan wanita yang tidak memiliki harta. Karena jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dan akan memberikan karunia-Nya. Justru karena meyakini karunia Allah seakan membuat tidak membutuhkan harta, karena harta itu bisa datang dan bisa pergi. Hal ini seperti firman-Nya,

Dan, jika kalian khawatir menjadi miskin, makaAllah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.” (At-Taubah: 28).*AS-Sayyid Muhammad Shiddiq Khan, dari bukunya Al-Qur’an & As-Sunnah Bicara Wanita.

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Menikahkan Para Bujang"