Menjalankan Perintah Al-Qur’an dalam Kehidupan

DALAM hadist riwayat Abu Daud disebutkan sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Atas dasar itulah mestinya persahabatan dibina.

Lalu apakah tanda iman itu? Bila ingin menjawabnya dengan ringkas, jawabannya adalah Al-Qur’an dan shalat. Keduanya menjadi prioritas dan tanda dasar agama secara keseluruhan. Siapa yang memperoleh keduanya dianggap telah mencapai ridha Allah, dan siapa pun yang hidupnya sepi dari dua hal ini, berarti masih terpisah dari iman dan Islam.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya dua hal ini dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang berpegang dengan Kitab Allah dan mendirikan shalat, sungguh Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf: 170).

Seolah orang yang berbuat baik (muslih) hanya mengisi hidupnya dengan Al-Qur’an dan shalat. Usaha mereka di mata Pencipta adalah usaha para muslih yang diberkati di dunia dan dibalas pahala di akhirat. Dipertegas lagi dengan firman Allah: “Bacalah yang diwahyukan kepadamu dari kitab Allah dan dirikanlah shalat.” (QS. al-Ankabut:45)

Pengertian membacakan Al-Qur’an dan shalat, berikut tujuannya, tak mungkin tercapai dengan lafal atau perbuatan lahiriah semata. Yang dituntut adalah membangun hakekat yang menguasai hidup, membentuk, dan menjelaskannya.

Pada dasarnya semua yang tampak di depan mata mengandung dua bentuk: pertama, hakekat hidup Anda sesungguhnya, dan kedua tak ada hubungannya dengan hidup Anda sebenarnya, sekedar pengaruh luar dan hiasan. Bisa jadi ucapan manusia bertentangan dengan perilakunya.

Ada bukti hal itu dalam firman Allah: “Bila Kami menghendaki, akan Kami perlihatkan siapa sebenarnya mereka padamu. Maka akan kau kenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau kenal mereka lewat kiasan kata mereka dan Allah mengetahui perbuatan kamu sekalian.” (QS. Muhammad: 30).

Lidah dan pena mereka menelurkan kata-kata indah, tetapi: “Mereka mengucapkan dengan lidah, apa yang tidak ada di hatinya.” (QS. Ali-Imran: 167).

Tujuan hidup mereka hanya kemapanan ekonomi, anak istri, dan angan duniawi. Dalam ucapan saja mereka memperlihatkan, seolah agama Allah menjadi perhatian dan tujuan hidup mereka.

Sebagai contoh, ada yang berceramah tentang kerusakan umat. Semalam berselang ia tidak bisa tidur. Air mata meleleh memikirkan kondisi umat. Doanya: “Ya Ilahi, berilah umat ini pertolongan. Berilah hamba kekuatan agar mampu membawa mereka ke jalan-Mu.”

Ini menujukkan bahwa kecemasan terhadap dirinya lebih besar dibandingkan kecemasannya terhadap kondisi umat. Sebab tanpa itu ia tidak bisa tampil di halaman surat kabar dan panggung kehidupan.

Bila muncul orang yang bersemangat membela kaum tertindas dengan kata-katanya, padahal hidupnya jauh dari kasih sayang pada golongan ini, maka ucapannya hanya riya’. Begitu pula dengan orang yang sibuk berdebat dengan dalil, sedang hidupnya jauh dari dalil itu, termasuk yang berdebat tanpa kesadaran berbuat.*/Sudirman STAIL (Sumber buku: Menjadi Generasi Qur’ani. Penulis: Dr. Wahiduddin Khan)

author
No Response

Leave a reply "Menjalankan Perintah Al-Qur’an dalam Kehidupan"