Oseanologi di Dalam Al-Qur’an

No comment 194 views

Al-Quran menerangkan dalam ayat:

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20).

Dalam bahasa Arab, kata barzakh berarti penghalang atau sekat. Penghalang di sini bukan sebuah sekat secara fisik. Sedangkan kata Arab, maraja, secara harfiah berarti mereka bertemu dan bercampur antara satu dengan yang lain.

Al-Qur’an mampu menjelaskan dua makna berlawanan untuk dua macam air, yaitu mereka bertemu dan bercampur, pada saat yang sama ada penghalang juga di antara mereka.

Ilmu pengetahuan modern telah menemukan beberapa tempat di mana dua lautan yang berbeda bertemu dan ada penghalang di antara keduanya. Penghalang ini membagi dua laut sehingga setiap lautan memiliki suhu, salinitas dan kerapatan yang berbeda.

Para ahli oseanologi kini bisa menjelaskan makna ayat ini. Ada sebuah penghalang gaib antara dua laut; di mana air dalam satu lautan tidak bercampur dengan yang lain.

Tetapi, ketika air dari satu laut memasuki laut lain, air itu akan kehilangan ciri khas karakteristik dan menjadi homogen dengan air lainnya. Dengan demikian, penghalang berfungsi sebagai tempat penyeragam transisi untuk dua macam perairan. Fenomena ilmiah yang disebutkan Al-Qur’an ini juga dikonfirmasi oleh Dr. William Hay, seorang ilmuwan laut ternama dan profesor ilmu geologi di Universitas Colorado, AS. Al-Qur’an menyebutkan dalam ayat:

Bukankah Dia (Allah) telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml: 61)

Fenomena ini terjadi di beberapa tempat, salah satunya adalah Laut Mediterania dan laut Atlantik di Selat Gibraltar. Al-Qur’an berbicara tentang sekat antara air tawar dan air laut ini dalam ayat:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. AI-Furqan: 53)

Ilmu pengetahuan modern juga telah menemukan muara, tempat air tawar dan asin bertemu. Di muara ini, situasinya agak berbeda dengan dua laut yang bertemu. Kemudian, ditemukan bahwa apa yang membedakan antara air tawar dan air asin di muara disebut zona pycnocline. Ini ditandai dengan kepadatan yang memisahkan dua lapisan. Zona ini memiliki salinitas yang berbeda.

Fenomena ini terjadi di beberapa tempat, di antaranya di Mesir di mana sungai Nil mengalir ke Laut Mediterania.*/Dr. Zakir Naik, dari bukunya Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah

author
No Response

Leave a reply "Oseanologi di Dalam Al-Qur’an"