Permisalan Allah dengan Buih

No comment 132 views

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Ar-Ra’du [13]: 17).

Permisalan adalah bagian dari cara Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) menyampaikan firman-Nya sebagaimana ayat di atas. Selain menunjukkan ketinggian cara berbahasa, dengan perumpamaan biasanya memudahkan untuk mengerti maksud yang diutarakan.

Seorang salaf, dikutip dalam Tafsir Ibn Katsir, berkata: Jika aku membaca perumpamaan di dalam al-Qur’an dan tidak dapat memahaminya, aku menangisi diriku sendiri karena Allah berfirman: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut [29]: 43).

Makna ayat

Ayat di atas mengandung perumpamaan mengenai kebenaran dalam hal kekokohan dan ketetapannya serta mengenai kebatilan dalam hal kehampaan dan kemusnahannya. Hal itu disampaikan Ibn Katsir dalam tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Bahwa kebenaran itu jelas dan terpisahkan dari kebatilan. Sebagaimana hidayah juga berbeda dengan kesesatan dan segala bentuk penyimpangan akidah.

Ditamsilkan, setiap lembah mengambil air sesuai dengan kapasitasnya. Jika besar ia mengambil air yang banyak. Sedang yang kecil hanya bisa menampung air yang sedikit. Yakni, di antara hati manusia, ada yang lapang dan memuat ilmu yang banyak. Ada pula manusia yang sempit hatinya, ia tak punya ilmu kecuali sedikit saja.

Kekokohan hati itu juga tampak dari perumpamaan berikutnya, tentang adanya dua jenis buih yang berbeda. Ibn Katsir menyebutkan, pendirian yang tidak teguh mirip dengan buih yang timbul tenggelam. Keraguan hati itu tak memberi manfaat apa-apa kecuali hanya menjadi sampah yang mengotori. Sebaliknya, keyakinan bisa memberi manfaat kepada manusia. Ialah yang sanggup bertahan tinggal di bumi. Ia tak hanyut walau dengan air bah yang menggulung sekalipun.

Bagi orang beriman, teguhnya pendirian akidah di zaman penuh fitnah ini menjadi sesuatu yang mutlak. Akidah menjadi senjata penyelamat sekaligus benteng terakhir dari membanjirnya serbuan syubhat (kerancuan) dan godaan syahwat (hawa nafsu) yang kian melenakan. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma (Ra) menguatkan, akidah yang kokoh menjadikan setiap amal yang dikerjakan senantiasa didasari dengan keyakinan berupa ilmu yang benar.

Ibn Katsir berkata, (saat itu) orang-orang yang lemah keimanannya ibarat buih yang terhempas. Ia terberai, tercabik-cabik, lenyap di sisi lembah, menempel di pohon, ditiup angin. Hingga akhirnya lenyap tak terbekas.

Senada, Mufassir as-Sa’di menambahkan, buih yang tak bermanfaat itu cuma bisa mengambang. Menjadikan air keruh sampai akhirnya lenyap dengan sendirinya. Lebih jauh dijelaskan, hal itu terjadi ketika kebenaran sudah didakwahkan sedang hati manusia terlanjur dikangkangi nafsu syubhat dan syahwat.

Berbeda dengan hati yang dipenuhi iman, hati itu tak henti berjuang menaklukkan godaan itu. Hingga akhirnya hati manusia menjadi bersih lagi murni dengan keimanan. Hanya ada hal-hal yang bermanfaat bagi manusia berupa ilmu dan amal saleh.

Abu Bakar al-Jazairi dalam Tafsir Muyassar menegaskan tentang keutamaan akidah dan bahaya penyimpangannnya berupa kekafiran dan kesyirikan. Jika keimanan itu kokoh niscaya sanggup melenyapkan buih atau kotoran yang ada. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah yang bermanfaat di bumi. Dengannya kebenaran menjadi tegak dan kebatilan berujung sirna.

Didikan Ramadhan

Ibarat besi yang ditempa, saat sebulan penuh di bulan Ramadhan hati dan fisik manusia “dibakar” dengan latihan meninggalkan makan, minum, dan segala kecenderungan materi duniawi yang selama ini menyita waktu mereka. Diharapkan dengan ini, seluruh kotoran yang melekat digelontor dari jiwa seorang Muslim. Layaknya besi yang dibakar tadi, tak ada lagi yang tersisa, melainkan semuanya lebur dan menyatu dalam potensi dan orientasi takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak heran, digambarkan hati manusia menjadi putih bersih seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Penutup

Dalam Islam, akhlak dan amal saleh adalah cermin dari kesucian hati, sebagaimana hati yang bersih sanggup mendorong pemiliknya untuk bersegera dalam kebaikan dan ketakwaan. Sebab keberuntungan sejati hanyalah milik orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya. Sebagaimana kesengsaraan bagi manusia yang tak henti mengotori hati dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Bulan Ramadhan adalah momen terbaik untuk evaluasi dan perencanaan hidup seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sebab bisa jadi ada orang yang menyangka meraih keberuntungan, namun ternyata hidupnya justru dinyatakan buntung dalam penilaian yang lain. Hal itu dikatakan tegas oleh Allah bahwa seluruh amalan manusia seketika bisa menjadi buih yang musnah begitu saja. Alih-alih bermanfaat, kesibukan dan apa yang diusahakan tersebut malah berubah menjadi awal petaka hidup manusia.*Masykur/Suara Hidayatullah

author
No Response

Leave a reply "Permisalan Allah dengan Buih"