Ramadhanku, Madarasahku!!!!

No comment 545 views

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah [2]: 183)

ramadhan tiba

ramadhan tiba

Mukaddimah

Di antara sekian banyak keutamaan umat Islam atas umat sebelumnya adalah dengan diturunkannya bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan yang di dalamnya diturunkan al-Qur`an, kitab suci sekaligus pedoman bagi setiap orang yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ramadhan bagi kaum Muslimin memiliki begitu banyak keistimewaan. Di antaranya, Ramadhan berfungsi sebagai madrasah yang menghasilkan lulusan berkualitas yang menyandang predikat muttaqin (orang-orang bertakwa).

Ramadhan sebagai Madrasah

Keberhasilan sebuah pendidikan sangat ditentukan oleh adanya tiga komponen yang menyatu, yakni in put, proses dan out put. Jika salah satu unsur dari ketiganya kurang ideal, maka mustahil melahirkan out put yang diharapkan pula. Dan puasa Ramadhan memadukan secara sinergis ketiga komponen tersebut dalam diri seorang Muslim.

In put: Sumber Daya Mukmin

Ramadhan sebagai sebuah keutamaan yang hanya memanggil orang-orang beriman. Sebab, hanya orang beriman yang tergerak hatinya dan memiliki responsibilitas dalam menyambut seruan-Nya. Sedang orang munafiq memandang panggilan-Nya tak lebih seperti suara sayup-sayup nun jauh di sana. Keyakinan orang beriman dibuktikan dengan anggota tubuh. Ia taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahir dan batin. Tanpa sedikit pun ada rasa keberatan.

Dengan adanya iman dalam diri, ia menjadi sumber energi yang senantiasa memberikan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya untuk memberi dan menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam taman kehidupan. Atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan di permukaan bumi. Iman adalah gelora yang mengalirkan inspirasi kepada akal pikiran, maka lahirlah bashirah (mata hati). Sebuah pandangan yang dilandasi oleh kesempurnaan ilmu dan keutuhan keyakinan.

Iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, maka lahirlah takwa. Iman melahirkan sikap mental tawadhu (rendah hati), wara’ (membatasi konsumsi dari yang halal), qana’ah (puas dengan karunia Allah), yaqin (kepercayaan yang penuh atas kehidupan abadi).

Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, maka lahirlah harakah. Yakni sebuah gerakan yang terpimpin untuk memenangkan kebenaran atas kebatilan, keadilan atas kezaliman, dan kekuatan jiwa atas kelemahan.

Iman juga menentramkan perasaan, mempertajam emosi, menguatkan tekat, dan menggerakkan raga.

Selain itu, iman mengubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat, dekat dan akrab. Yang kaya di antara mereka menjadi dermawan, yang miskin menjadi ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa menjadi adil, yang ulama menjadi takwa, yang kuat menjadi penyayang. Juga yang pintar menjadi rendah hati, yang bodoh menjadi pembelajar, dan yang memiliki kedudukan tinggi bisa dijadikan tempat bernaung bagi yang rendah.

Proses itu Bernama Ramadhan

Dari segi etimologis, makna Ramadhan adalah membakar. Sebab, secara umum bulan kesembilan Qamariyah itu jatuh pada musim panas. Makna tersebut mengandung pelajaran bahwa melalui proses puasa Ramadhan, dosa-dosa dan kelemahan serta sisi gelap diri seseorang menjadi hangus terbakar. Sebaliknya, sisi terang yang ada pada diri manusia menjadi tampak dan mengemuka.

Di samping itu puasa adalah junnah (perisai), yang mampu memagari pelakunya dari tekanan internal diri dan tarikan eksternal. Puasa merupakan media untuk melawan ketergesa-gesaan, menghalau tantangan dan berbagai kesulitan, menunda kenikmatan sesaat menuju kepuasan batin, menguatkan azam (tekad), mensucikan maksud, dan mengangkat martabat.

Dengan perisai tersebut, semoga Allah Ta’ala berkenan melindungi kita semua dari berbagai mudharat, memagari dari maksiat, dan menjaga kita dari gangguan yang bersumber dari mukmin yang dengki, tipu daya orang kafir, munafiq yang membenci, hawa nafsu yang menggelincirkan serta setan yang menyesatkan.

Dari gambaran singkat di atas, selanjutnya orang-orang beriman menjalani proses tarbiyah yang begitu berkualitas. Di bulan Ramadhan ini, mereka menjalani penggemblengan dalam sebuah madrasah khusus. Meski telah datang dengan modal iman yang terpatri, orang beriman tetap saja harus melalui proses itu dengan ketat selama sebulan penuh. Segala keinginan makan dan minum yang selama ini menjadi kebiasaan, maka pada bulan Ramadhan hal itu ditahan. Hawa nafsu yang boleh jadi menjadi dominan pada diri manusia, maka dengan proses Ramadhan, kecenderungan syahwat itu tidak lagi bebas diperturutkan semau hati.

Out put: Sumber Daya Muttaqin

Tak dapat disangkal lagi, takwa adalah sebaik-baik bekal bagi orang beriman. Ia menjadi kunci kemenangan dan kebahagiaan hidup. Takwa menjadi puncak gelar bagi orang-orang beriman. Ia adalah derajat tertinggi yang bisa diraih melalui proses Ramadhan. Berbagai keutamaan orang bertakwa menjadi garansi bagi seorang Muslim untuk bercita-cita dan berupaya semaksimal mungkin meraih predikat tersebut.

Di antara keutamaan takwa itu adalah adanya ‘furqan’ pada diri yang bersangkutan. Furqan adalah pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Sebuah kemampuan dalam diri yang berfungsi untuk mengetahui dan memilah mana yang benar dan yang batil. Dengan bekal pengetahuan itu, seorang Muslim beramal secara benar dan menjauhkan diri dari kebatilan.

Lebih lanjut, Ibnu Ishaq berkata, “Dengan adanya furqan, niscaya umat Islam memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan, barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan mengamalkan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, akan terbimbing untuk mengetahui kebenaran dan kebatilan. Itu merupakan kunci pembuka kemenangan, keselamatan, dan jalan keluar baginya dalam menghadapi urusan-urusan dunia. Itu pula kunci kebahagiaan pada Hari Kiamat, dan sebab dihapuskannya segala dosa-dosanya.

Takwa adalah solusi untuk mengatasi setiap kelemahan, ketertinggalan, dan kehinaan yang sedang mendera umat Islam. Ia adalah satu faktor yang apabila kita pegang teguh, pangkal datangnya pertolongan dan taufik. Ia juga menjadi faktor yang menyebabkan kekalahan dan kehinaan akan dijauhkan dari kita.

Sahabat Nabi menceritakan, suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kami yang menyebabkan hati terharu dan mata berlinang. Lantas kami berkata, “Ya Rasulullah, ini seolah-olah nasihat untuk orang yang akan berpisah, maka nasihatilah kami.” Nabi menjawab, “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (pada pemimpin), sekalipun yang memimpin kalian itu seorang budak,” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dari Irbadh bin Sariyah).

Alhasil, begitu pentingnya takwa hingga Rasulullah bila mengirim seorang komandan untuk memimpin pasukan, maka Nabi tak pernah luput mewasiatkan takwa dan agar bersikap baik kepada para prajuritnya. Sebagaimana para khalifah selalu mewasiatkan takwa kepada penerusnya, dan para ulama salaf saling berwasiat di antara mereka dengan pesan takwa. *Mohammad Soleh, pengasuh Pesantren Hidayatullah Kudus. Suara Hidayatullah, Agustus 2011
No Comments »

author
No Response

Leave a reply "Ramadhanku, Madarasahku!!!!"