Saat-saat Menghadapi Shirath (2)

No comment 59 views

DALAM riwayat Abu Sa’id Al-Khudri di dalam Shahih Muslim, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah jembatan (shirat) itu?”

Nabi menjawab, “Licin lagi menggelincirkan, di atasnya terdapat besi pengait dan besi-besi yang ujungnya bengkok, berduri, mempunyai lebar dan luas, yang berada di tempat yang tinggi lagi berduri, biasa disebut dengan Sa’dan. Seorang mukmin melewati shirat, ada yang bagaikan kejapan mata, bagaikan kilat, bagaikan angin, bagaikan burung, bagaikan kuda pacuan dan hewan tunggangan tercepat.

Maka, yang berhasil (lewat) berarti selamat. Ada yang selamat, namun tubuhnya disambar hingga robek dan terputus. Ada yang terkait dan terlempar jatuh ke dalam Jahannam. Hingga bila mereka telah selamat dari neraka, demi Allah kalian tidaklah yang paling hebat dalam menuntut hak kepada Allah daripada (tuntutan) orang-orang beriman kepada Allah untuk saudara mereka yang di neraka (agar dibebaskan darinya).

Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami itu dahulu mengerjakan shalat, puasa, dan beramal serta menunaikan haji bersama kami.’ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata, ‘Keluarkanlah siapa yang kalian kenali.’

Allah telah mengharamkan muka-muka mereka atas neraka, lalu mereka mengeluarkan penduduk neraka dalam jumlah yang besar, yang telah dibakar hingga betisnya dan lututnya. Lalu mereka berkata, ‘Ya Allah, tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah pun berfirman, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada kebaikan (keimanan) seberat satu dinar, maka keluarkanlah dia (dari neraka)!’

Lalu, mereka pun mengeluarkan penghuni neraka dalam jumlah yang besar, lalu berkata, ‘Ya Allah, tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah berkata lagi, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada keimanan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah!’

Mereka lalu mengeluarkan jumlah yang besar dan berkata, ‘Ya Allah tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah berkata kembali, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada keimanan seberat dzarrah, maka keluarkanlah!’

Mereka pun mengeluarkan jumlah yang besar. Kemudian berkata, ‘Ya Allah, kami tidak meninggalkan di dalamnya seorang pun yang memiliki kebaikan’.”

Ilustrasi/Hari kebangkitan.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Bila kalian tidak mempercayaiku berkenaan dengan hadits ini, silakan membaca ayat berikut bila kalian berkenan:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa’: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Para malaikat telah memberi syafaat, begitu pun para nabi dan orang-orang mukmin.’ Lalu, Dia meraup satu genggaman dari penghuni neraka, Dia mengeluarkan satu kaum yang belum melakukan satu kebaikan pun. Mereka telah menjadi arang. Allah melemparkan mereka ke salah satu sungai di surga, yang disebut sungai kehidupan.

Mereka pun keluar seperti tumbuhnya biji-bijian di tanah liat pinggir aliran air. Tidakkah kalian melihat tumbuhan dari biji-bijian ini? Ia merambat di bebatuan atau pepohonan, yang mendapat sinar matahari berwarna kuning atau merah, yang berada di tempat teduh berwarna putih. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan engkau dulu pernah menggembala kambing.’

Rasulullah melanjutkan, ‘Lalu mereka keluar seperti mutiara, di leher mereka ada cincin. Penghuni surga mengenal mereka sebagai orang-orang yang dibebaskan oleh Ar-Rahman, mereka dimasukkan ke dalam surga tanpa ada amal yang pernah mereka kerjakan, tanpa ada kebaikan yang pernah mereka lakukan.

Allah berfirman, ‘Masuklah kalian ke dalam surga, apa yang kalian lihat itu menjadi milik kalian.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, Engkau telah memberi kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di semesta ini.’

Allah berfirman, `Kalian masih akan mendapatkan sesuatu dari-Ku yang lebih baik dari ini.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, adakah sesuatu yang lebih baik dari yang demikian ini?’ Allah berfirman, ‘Ridha-Ku, Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini selamanya’.” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i)

Allah Mahabesar! Sebuah penggambaran, demi Rabb pemilik kemuliaan, sekiranya kita merenungkannya seakan-akan kita melihatnya secara langsung. Mengapa tidak? Sedangkan yang menggambarkan dan memvisualisasikan adalah orang yang mendapat karunia berupa jawami’ al-kalim, beliau Muhammad bin Abdillah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.*

Dari buku Detik-detik Pengadilan Allah karya Syaikh Muhammad Hassan.

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Saat-saat Menghadapi Shirath (2)"