Santri TPA Tobelo Tak Lagi Berebut Al-Qur’an

HANI FIATUS SAMHAH,  Abdullah Tono, Risto Hasan, dan sejumlah temannya duduk di pinggiran masjid memegang al-Qur’an. Mereka mengulang kembali bacaan ayat atau surat yang baru dipelajari, sembari menunggu teman lainnya yang masih mengaji bersama ustadz. Setelah semua selesai, mereka bersama-sama mengulang bacaan mengaji yang baru dipelajari.

“Paling tidak mereka sampai tiga kali muraja’ah,” kata Ustadz Taufikurahman, Pimpinan Pondok Pesantren Ragaiyah di Tobelo, Halmahera Utara.

Taufikurahman merasa senang dengan pembelajaran di pondoknya belakangan ini. Hal ini karena telah tercukupinya sarana mengaji bagi anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Ada kiriman 100 al-Qur’an dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH).

“Alhamdulillah, sekarang masing-masing anak sudah bisa pegang al-Qur’an. Mereka tidak lagi saling menunggu saat mengaji,” katanya.

Sebelumnya Hani dan teman-temannya sering berebut al-Qur’an saat kegiatan mengaji ba’da Ashar hendak dimulai. Maklum, jumlahnya terbatas. Mereka pun harus bergiliran.

“Anak-anak duduk berbaris bergantian menghadap ustadz satu per satu. Mestinya paling tidak bisa menghadap guru ngajinya dua atau tiga orang sekaligus,” ungkap Taufikurahman.

Satu al-Qur’an digunakan untuk 4 santri. Jumlah al-Qur’an saat itu kurang dari 15 buah, sementara santri ada 50 anak.

“Akibatnya, al-Qur’an yang sudah terbatas itu pun banyak yang robek karena anak-anak saling berebut. Beberapa al-Qur’an lembaran juz pertama sudah tinggal separuh.”

wakaf al quran

Kini hal itu tidak terjadi lagi. Kegiatan pengajaran al-Qur’an bahkan semakin ditingkatkan. “Al-Qur’an yang baru ada terjemahannya, sehingga sekarang para santri diberi penguasaan terjemah agar mengerti makna ayat al-Qur’an.”

Lebih jauh, santri seusai mengaji tidak lagi beraktivitas sendiri-sendiri, tetapi duduk di sekeliling masjid untuk mengulang lagi bacaan surat atau ayat dari masing-masing kitab yang dipegangnya. Nanti mereka kembali mengulang bacaan bersama-sama.

Taufikurahman menjelaskan, al-Qur’an yang diterima dari YAWASH dibagi dua. Di samping untuk TPA, satu bagian lain digunakan untuk santri yang menetap di pondok. Para santri itu berjumlah 25 orang yang mengikuti pendidikan di SMP dan SMA.

Kesulitan mendapatkan al-Qur’an di wilayah ini disebabkan minimnya toko penjualan buku-buku kebutuhan Muslim di Tobelo.

Untuk diketahui, Pondok Pesantren Ragaiyah berada di Desa Togoliua, Kecamatan Tobelo Barat. Desa ini merupakan satu-satunya desa yang berpenduduk Muslim dari sejumlah desa di Tobelo Barat. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, sisanya pegawai negeri sipil, buruh, nelayan, dan lain-lain.

Di sebelah barat Desa Togoliua berbatasan dengan Desa Kesuri, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Gonga. Sebelah utara Desa Paca dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Gamsungi. Penduduk desa-desa itu umumnya non-Muslim.*

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Santri TPA Tobelo Tak Lagi Berebut Al-Qur’an"