Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (1)

Allah SWT berfirman,

Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqaan [25]: 63)

‘Ibaadurrahman berarti hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah. Inilah sifat-sifat hamba Allah yang beriman tersebut:

[Pertama]

Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.

Maksudnya dengan tenang dan tenteram tanpa menampakkan kesombongan dan kepongahan, sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Israa’: 37)

Ada pun orang-orang yang beriman selalu berjalan tanpa menampakkan kesombongan, kepongahan, sikap arogan, dan rasa takabbur. Ini bukan berarti bahwa mereka berjalan sempoyongan atau seperti orang sakit yang dibuat-buat dengan tujuan supaya dipandang sebagai orang yang rendah hati. Karena sebaik-baik panutan manusia, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, ketika beliau berjalan seakan-akan beliau turun dari tempat yang tinggi, dan seakan-akan bumi dilipatkan (didekatkan) untuknya.

Yang dimaksud dengan haunan pada ayat ini adalah sikap tenang dan tenteram. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam,

“Apabila kalian melaksanakan shalat, maka jangan sekali-kali kalian lakukan saat kalian merasa lelah menempuh perjalanan. Namun laksanakanlah shalat dalam keadaan tenang. Apa yang kalian dapati (dari shalat) maka shalatlah, dan apa yang kalian lewatkan maka sempurnakanlah.” (Al-Bukhari)

[Kedua]

Allah berfirman,

Dan apabila orang-orang yang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Maksudnya, apabila orang-orang bodoh menegur mereka dengan ucapan yang kotor, mereka tidak membalasnya dengan teguran yang sama. Mereka malah memaafkan, menyambutnya dengan santun dan tidak mengatakan sesuatu selain ucapan yang baik. Hal seperti inilah yang dilakukan Rasulullah. Beliau tidak pernah melawan kekerasan orang jahil melainkan dengan kesabaran dan kesantunan. Dan sebagaimana firman-Nya,

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu. Kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashash: 55)

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari an-Nu’man bin Muqarrin al-Muzani. Ketika ada seseorang yang sedang mencaci-maki laki-laki yang berada di sampingnya, dan laki-laki yang dimaki-maki itu hanya menjawab, “Alaikas salaam” (semoga keselamatan tercurah untukmu), maka Rasulullah bersabda,

“Ada Malaikat hadir di tengah-tengah kalian berdua. Ia membela kamu. Setiap kali kamu mendapat cacian dari laki-laki ini, Malaikat itu berkata (kepada yang mencaci maki), ‘Malah kamu yang lebih berhak mendapat cacian itu.’ Namun bila kamu mengatakan, ‘Alaikas salaam,’ Malaikat itu berkata, `Tidak, keselamatan itu hanya untuk kamu, kamulah yang lebih berhak mendapatkan keselamatan itu.” (Ahmad, Hadits ini memiliki sanad yang derajatnya hasan. Namun para imam hadits tidak mencantumkan hadits ini di dalam kitabnya masing-masing). (Dikutip dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir)

author
No Response

Leave a reply "Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (1)"