Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (2)

Allah SWT berfirman,

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al Furqaan [25]: 64-67)

[Ketiga]

Malam-malam yang dilalui ‘ibaadurrahman adalah malam-malam yang istimewa. Allah berfirman, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka,” dengan penuh ketaatan dan sikap penghambaan yang tulus.

Ini sebagaimana firman-Nya,

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat: 17-18).

Juga sebagaimana firman Allah,

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)

Dan firman Allah,

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?” (Az-Zumar: 9)

[Keempat]

Allah berfirman sifat berikutnya dari ‘ibaadurrahmaan,

Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, jauhkan adzab jahannam dart kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

Makna dari ghoramun adalah kekal dan selamanya. Oleh karena itu, saat mengomentari firman Allah, “Sesungguhnya adzabnya itu membuat kebinasaan yang kekal”, Al-Hasan Al-Basri berkata, “Segala sesuatu yang mengenai tubuh anak cucu Adam yang kemudian hilang, maka tidak disebut ghoramun. Yang disebut gharam adalah apabila terus-menerus (menimpanya) selama-lamanya.

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sulaiman at-Taimi. Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya ]ahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Maksudnya, Neraka Jahannam adalah seburuk-buruknya tempat tinggal dan seburuk-buruknya tempat istirahat.

[Kelima]

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir.” Maksudnya, mereka tidak berlaku boros dalam membelanjakan harta mereka, hingga harta dipergunakan di atas kebutuhan pokok mereka. Mereka juga tidak berlaku bakhil (kikir) terhadap keluarga mereka, hingga keluarga tidak terpenuhi haknya dan tidak tercukupi kebutuhannya.

Namun ia bersikap sederhana dan bersahaja. Karena sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya, tidak boros dan tidak juga kikir, sebagaimana firmannya, “Dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ”

Juga sebagaimana firman-Nya,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 29). (Dikutip dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir)

author
No Response

Leave a reply "Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (2)"