Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (3)

Allah SWT berfirman,

Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), [68] (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, [69] kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [70] Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. [71] (Al-Furqaan: 68-71)

[Keenam, ketujuh, dan kedelapan]

Menjauhkan diri dari syirik, membunuh, dan berzina.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari `Abdullah bin Mas’ud r.a. Ia berkata, “Rasulullah SAW ditanya tentang dosa apa yang paling besar? Beliau menjawab, “Kamu menjadikan sekutu bagi Allah, sedangkan Allah yang menciptakanmu.”

Seorang laki-laki bertanya, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Kamu membunuh anakmu karena kamu takut tidak mendapat makan bersama mereka.”

Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Nabi menjawab: “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Allah menurunkan ayat untuk membenarkan apa yang beliau sabdakan, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”

Demikianlah teks hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.”

Riwayat lain dari Sa’id bin Jubair bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas r.a menceritakan tentang sekelompok kaum musyrikin yang sering melakukan pembunuhan dan perzinaan. Kemudiaan orang-orang musyrik itu mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya berkata, “Apa yang kamu ucapkan dan kamu dakwahkan itu sungguh bagus. Seandainya tidak ada kaffarah (sanksi hukum dan denda) atas apa yang telah kami lakukan, niscaya kami akan beriman kepadamu.”

Kemudian turunlah ayat, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”

Juga turun ayat,

Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Kemudian tentang firman Allah, “(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh,” maksudnya balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat tercela dengan mengerjakan dosa-dosa besar, dengan dilipatgandakan azab untuknya dan akan kekal serta terhina di dalamnya, terkecuali bila mereka bertaubat kepada Allah dari segala dosa-dosa tersebut di alam dunia. Bagi mereka yang bertaubat, Allah akan menerima taubat mereka.

Selanjutnya Allah memberitahukan tentang luasnya rahmat Allah yang dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya. Dia menjelaskan bahwa barangsiapa di antara mereka yang bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya, baik dosa yang ia lakukan besar atau pun kecil. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

Maksudnya, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya, sebagaimana juga firman-Nya, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisaa’: 110)

Juga sebagaimana firman Allah SWT, “Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (At-Taubah: l04).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Abu Jabir, bahwa ia mendengar Mak-hul menyampaikan sebuah hadits. Ia berkata, “Seorang laki-laki tua renta yang kedua alis matanya sudah turun, mendatangi Rasulullah SAW seraya bertanya, ‘Wahai Rasulullah! (Aku adalah) seorang laki-laki yang sering berkhianat, kerap melakukan dosa besar dan tidak pernah mencukupi kebutuhannya, baik besar atau pun kecil kecuali dari hasil merampas hak orang dengan tangannya. Seandainya dosanya itu dibagikan ke seluruh penghuni bumi, niscaya semuanya akan mendapatkan bagian. Apakah dia masih bisa bertaubat (untuk menggugurkan dosanya)?’

Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu sudah masuk Islam?’

Ia menjawab, ‘Ada pun aku, aku sudah menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya.’

Nabi bersabda, “Sungguh, Allah akan mengampunimu selagi kamu berpegang kepada (syahadat) itu. Dan Allah akan menggantikan kejelekan-kejelekan dengan kebaikan.”

Ia bertanya kembali, ’Wahai Rasulullah! Meskipun aku telah berbuat khianat dan melakukan dosa-dosa besar?’

Beliau menjawab, ‘Perbuatan khianat dan dosa-dosa besar itu (telah sirna).’

Maka laki-laki itu pun berlalu seraya membaca tahlil dan takbir.*/(Dikutip dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir)

author
No Response

Leave a reply "Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (3)"