Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (4)

Allah SWT berfirman,

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.[72] Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.[73] Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [74] (Al-Furqaan: 72-74)

[Kesembilan]

Mereka tidak melakukan perkataan dusta, fasik, kufur, sesuatu yang tidak ada gunanya, dan ucapan palsu yang batil.

`Amr bin Qais berkata, “Mereka tidak pernah menyaksikan tempat-tempat maksiat, majelis-majelis keburukan yang banyak perkataan dustanya.”

[Kesepuluh]

“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Maksudnya, mereka tidak menghadiri perkataan-perkataan kotor yang tidak berfaedah, dan apabila secara kebetulan mereka berpapasan dengan tempat-tempat yang mengobral ucapan-ucapan kotor, mereka berlalu dan tidak sedikit pun terkena kotoran dosanya.

[Kesebelas]

Allah berfirman,

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Ini tergolong sifat-sifat orang yang beriman, sebagaimana dalam firman Allah,

Orang-orang yang apabila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Allah-lah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfaal: 2)

Berbeda sekali dengan sifat-sifat orang kafir. Ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Allah, tidak sedikit pun pengaruh yang merasuki mereka. Mereka tidak pernah bergeming dari jalan sesat yang sedari dulu mereka tempuh. Bahkan mereka tetap saja bergelut dengan kekafiran, kesombongan, kebodohan, dan kesesatannya.

[Keduabelas]

Allah berfirman,

Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).

Maksudnya, mereka yang selalu memohon kepada Allah agar dari keturunan mereka terlahir hamba-hamba Allah yang taat kepada perintah-Nya dan selalu menyembah-Nya, Rabb Yang Maha Esa, tidak air sekutu bagi-Nya.

Ibnu `Abbas r.a berkata, “Mereka memohon keturunan yang selalu melaksanakan perintah Allah, hingga dengan kehadiran keturunan yang seperti itu, hati mereka menjadi senang di dunia dan akhirat.”

[Ketigabelas]

Allah berfirman,

Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Dalam menafsirkan firman Allah SWT di atas, Ibnu ‘Abbas r.a, al-Hasan, as-Suddi, Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata, “Maksudnya, pemimpin-pemimpin yang menjadi panutan dalam hal kebaikan.”

Para ulama yang lain berpendapat, “Maksudnya jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, kemudian membimbing dan mengajak orang lain kepada kebaikan. Doa ini pun menunjukkan bahwa mereka ingin agar ibadahnya dilanjutkan oleh anak-anak cucunya. Mereka ingin menjadi orang-orang yang tauladan dan ajaran-ajarannya menular kepada orang lain hingga bermanfaat buat kehidupan mereka. Amal seperti itu akan menuai pahala yang besar dan menjadikannya memperoleh tempat kembali yang terbaik (Surga).”

Karenanya, tercantum dalam Shahiih Muslim dari Abu Hurairah r.a. Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya terkecuali tiga kategori amal. (Pertama) anak saleh yang mendoakannya, (kedua) ilmu bermanfaat yang diamalkan setelah kematiannya, dan (ketiga) sedekah jariyah.”*/(Dikutip dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir)

author
No Response

Leave a reply "Sifat-sifat ‘Ibaadurrahman pada Manusia (4)"