Tahap Embrio pada Janin Manusia

No comment 163 views

DAN sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14)

Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sejumlah kecil cairan yang ditempatkan dalam tempat perhentian yang kokoh (terlindungi dengan baik). Maka dari itu dalam bahasa Arab disebut sebagai qararin makin.

Rahim terlindungi secara sempurna dari arah belakang oleh tulang belakang yang didukung dengan kuat oleh otot-otot punggung. Embrio juga terlindungi lagi oleh kantung ketuban yang mengandung cairan amniotic. Dengan demikian, janin tinggal di tempat yang memang benar-benar terlindungi.

Sejumlah kecil cairan ini yang akhirnya terbentuk menjadi ‘alaqah yang berarti sesuatu yang melekat. Zat ini menyerupai lintah. Ada pun penjelasan ilmiahnya adalah tahap janin paling awal yang menempel pada dinding berbentuk seperti lintah dari segi bentuknya. Tidak hanya bentuknya yang sama, ternyata ia juga berperilaku sebagaimana lintah (pengisap darah), yaitu memperoleh suplai darah dari ibu melalui plasenta. Ada pun arti ketiga dari kata alaqah adalah segumpal darah beku

Selama tahap alaqah (segumpal darah) ini –pada waktu minggu ketiga dan keempat masa kehamilan– darah tersebut membeku/menggumpal dalam saluran-saluran tertutup. Maka embrio berubah bentuk menjadi segumpal darah dan juga berujud seperti lintah.

Pada 1667, Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) menggunakan mikroskop. Mereka berpendapat bahwa di dalam sel sperma terdapat miniatur manusia yang tumbuh dalam rahim untuk membentuk bayi yang baru lahir. Ini dikenal sebagai teori perforasi. Ketika para ilmuwan menemukan bahwa ternyata sel telur lebih besar dari sperma, De Graf dan ilmuwan yang lain berpikir bahwa janin dalam bentuk miniatur ada di dalam sel telur.

Kemudian pada abad ke-18, Maupertuis mempropagandakan teori warisan biparental. Alaqah berubah menjadi mudghah yang berarti sesuatu yang dikunyah (memiliki bekas gigitan) dan sesuatu yang kecil hingga dapat diletakkan di dalam mulut seperti permen karet.

Kedua penjelasan ini benar secara ilmiah. Dr. Keith Moore mengambil sepotong pelekat plaster dan membentuknya menjadi ukuran serta bentuk dari tahap awal janin dan mengunyahnya di antara gigi untuk membentukkannya seperti mudghah. Ia membandingkan bekas gigitan dengan gambar janin pada tahap awal. Tanda gigi menyerupai “somites” yang merupakan awal pembentukan tulang belakang.

Mudghah ini berubah menjadi tulang (izam). Tulang dibungkus dengan dengan daging yang utuh atau otot (lahm). Kemudian Allah membuatnya menjadi makhluk lain.

Prof. Marshall Johnson adalah salah satu ilmuwan terkemuka di AS dan merupakan Kepala Departemen Anatomi, Direktur Intitute Daniel di Universitas Thomas Jefferson Philadelpia, AS. Ia diminta untuk berkomentar pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menyangkut masalah embriologi. Ilmuwan terkemuka AS ini mengatakan bahwa gambaran tahap-tahap embriologi di dalam ayat Al-Qur’an tidak mungkin ada secara kebetulan.

Profesor ini mengatakan mungkin Muhammad menggunakan mikroskop canggih. Perlu diingat bahwa Al-Qur’an diturunkan 1.400 tahun lalu dan mikroskop ditemukan seabad setelah era Nabi Muhammad. Prof. Johnson tertawa dan mengakui bahwa mikroskop yang ditemukan pertama kali tidak dapat memperbesar lebih dari 10 kali dan tidak bisa menunjukkan gambar yang jelas.

Kemudian, Kepala Departemen Anatomi ini berkata, “Saya di sini tidak melihat adanya pertentangan dengan konsep bahwa ada campur tangan Tuhan ketika Muhammad membaca Al-Qur’an:”

Menurut Dr Keith Moore, klasifikasi embrio tahap pertumbuhan embrio yang dipakai di seluruh dunia tidak mudah dipahami. Hal itu disebabkan pertumbuhan embrio diidentifikasi secara numerik, yaitu tahap I, tahap II, dan lain-lain. Tetapi tahap pembagian dalam Al-Qur’an berdasarkan bentuk yang jelas, mudah diidentifikasi dari bentuk dan fase yang dialami embrio. Penjelasan ini berdasarkan fase-fase perkembangan yang berbeda sebelum melahirkan dan memberikan deskripsi ilmiah yang mudah dipahami dan praktis.

Tahap embriologi juga dijelaskan dalam ayat-ayat berikut,

Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Qiyamah: 37-39)

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 7-8).*/Dr. Zakir Naik, dari bukunya Miracles of Al-Quran & As-Sunnah.

author
No Response

Leave a reply "Tahap Embrio pada Janin Manusia"