Di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an, kebahagiaan itu hadir. Senyum yang merekah dan mata yang berbinar. Kini, lembaran-lembaran suci itu tergenggam erat di tangan kecil para santri.
Senyum kebahagiaan merekah di wajah Salwa dan Muhammad Raihan. Santri kecil Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Ikhwanul Muslimin itu tak mampu menyembunyikan rasa haru ketika menerima al-Qur’an dan buku Iqro’ baru di tangan mereka.
Bahkan, teman-teman mereka pun larut dalam kebahagiaan yang sama. Wajah-wajah ceria terpancar jelas, mata berbinar, dan hati dipenuhi rasa syukur.
“Jazakallah khairan katsiran, al-Qur’an dan buku Iqro’nya sangat bermanfaat bagi kami,” ucap mereka.
Ungkapan syukur juga disampaikan oleh Ketua TPQ Ikhwanul Muslimin, Ustadzah Neni Marlina. Ia mengapresiasi perhatian yang diberikan.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah dan para donatur yang telah memberikan al-Qur’an dan buku Iqro’ kepada kami,” tuturnya.

TPQ Ikhwanul Muslimin yang beralamat di Desa Tengku Tinggi, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang ini telah berdiri sejak tahun 2015. Meski sederhana, tempat ini menjadi ruang tumbuh bagi 65 santri yang belajar membaca dan mencintai al-Qur’an.
Kebahagiaan para santri tak berhenti di TPQ Ikhwanul Muslimin. Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) kembali menyalurkan amanah kepada puluhan santri di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Nurul Huda.
“Terima kasih al-Qur’annya, membuat kami semangat kembali belajar al-Qur’an,” ujar beberapa di antara mereka, dengan mata berbinar dan senyum yang tak henti mengembang.
MDTA Nurul Huda berlokasi di Desa Cinta Raja, Kecamatan Bendahara, Provinsi Aceh. Kini, sebanyak 70 murid menimba ilmu di sana.
“Al-Qur’an kami yang rusak akibat musibah banjir, kini sudah ada penggantinya, alhamdulillah,” ungkap Ustadz Wahidun Safar dengan suara bergetar, menahan haru.
Ustadzah Khadijah, salah seorang guru, tak kuasa menahan rasa syukur atas bantuan yang datang di saat yang tepat.
“Alhamdulillah, semoga berkahnya mengalir kepada para donatur, dimudahkan rezekinya, sehat wal’afiat, dan umur panjang yang berkah,” ungkapnya lirih, penuh harap.
Di balik senyum para santri, tersimpan kisah pilu yang tak mudah dilupakan. Menurut Chaerul, relawan kemanusiaan dan juga guru TPQ, anak-anak yang kini kembali menggenggam al-Qur’an itu adalah para penyintas banjir bandang yang sempat melanda Aceh Tamiang. Air bah datang tanpa ampun, menerjang rumah dan mushala, bahkan menghanyutkan banyak perlengkapan ibadah yang biasa mereka gunakan untuk belajar mengaji.
Al-Qur’an, buku Iqro’, mukena, sajadah—semuanya tersapu derasnya arus. Banyak mushaf dalam kondisi rusak, basah, bahkan tak lagi layak digunakan. Kehilangan itu sempat menyisakan kesedihan mendalam.
Namun, di tengah segala keterbatasan dan luka yang tersisa, ada satu hal yang tak pernah hilang.
“Akan tetapi, yang tidak pernah hanyut adalah semangat mereka untuk tetap belajar al-Qur’an,” ujar Chaerul.
Kini, dengan mushaf baru di tangan, harapan itu kembali tumbuh. Dari anak-anak yang pernah kehilangan, lahir keteguhan yang menginspirasi—bahwa seberat apa pun ujian, cahaya al-Qur’an akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menerangi hati. Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org




