Menebar Cahaya Al-Qur’an di Kampung Minoritas Muslim

Di sudut desa yang sunyi itu, mushaf yang dibagikan bukan sekadar bantuan, melainkan pesan hangat bahwa mereka tidak berjalan sendiri.

Jalanan berliku menuju Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tak menyurutkan langkah para relawan. Di tengah rimbunnya pepohonan pesisir selatan, sebuah misi literasi dan spiritualitas ditunaikan.

Bulan Februari 2026 lalu, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) bersama Yayasan Muslim Tionghoa Inspiration (MTI) dan Mualaf Center Indonesia (MCI) Perwakilan Malang menyalurkan mushaf al-Qur’an wakaf serta paket sembako bagi komunitas mualaf setempat.

Di Dusun Sitiarjo, geliat syiar Islam tumbuh dalam senyap. Komunitas Muslim di sini adalah minoritas. Dari sekitar 150 Kepala Keluarga (KK), hanya terdapat 32 penganut Islam, yang mayoritas merupakan mualaf. Keterbatasan akses terhadap literasi agama menjadi tantangan utama yang dihadapi warga selama ini.

“Alhamdulillah, al-Qur’an milik saya sudah jelek, akhirnya dapat yang baru dan isinya lengkap,” ujar salah satu warga dengan mata berbinar.

“Ada penjelasan asal-usul turunnya ayat (asbabun nuzul), jadi kami tambah wawasan,” imbuhnya lagi.

Pendiri MTI, Koh Muhammad Aziz Loe, turun langsung menyerahkan bantuan tersebut. Baginya, kolaborasi ini adalah investasi jangka panjang untuk memperkuat fondasi iman para mualaf.

“Terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Insya Allah, MTI akan terus bekerja sama untuk menyalurkan bantuan serupa ke berbagai daerah lainnya,” kata Koh Aziz di sela-sela acara penyaluran bantuan.

Upaya pembinaan di Sitiarjo tak berhenti pada pembagian fisik buku. Geovani Dimas Antares, Ketua MCI Malang, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya bersama MTI tengah membangun ruang belajar khusus bagi mualaf. Setiap dua pekan sekali, pembinaan rutin digelar untuk memastikan para mualaf tak hanya memiliki al-Qur’an, tapi juga mampu memahami maknanya.

“Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah sangat membantu kami dalam memberikan ‘bingkisan’ penguat iman. Para mualaf jadi bisa belajar memahami al-Qur’an beserta artinya,” tutur Geovani.

Di bawah atap ruang belajar yang tengah dirintis itu, asa baru bagi warga Muslim Sitiarjo mulai disemai—satu ayat demi satu ayat. Pambudi Utomo/sejutaquran.org