Wakaf Quran: Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok

Selepas shalat Maghrib, tim Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) menembus pelosok Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk mengantarkan amanah para pewakaf berupa al-Qur’an dan buku Iqro’.

Malam semakin larut. Penerangan di sejumlah titik yang dilalui sangat minim. Namun, langkah tim wakaf tak surut. Mereka mendatangi pesantren-pesantren sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Pesantren yang bangunannya sederhana, bahkan sebagian nyaris roboh.

Malam itu, tim wakaf mengunjungi beberapa pondok pesantren, di antaranya Pesantren Al-Baqiatus Shalihah, Pesantren Al-Hizaiyah, dan Pesantren Darul Hikam. Mereka membawa al-Qur’an dan buku Iqro’ untuk para santri yang selama ini belajar dengan sarana seadanya.

Al-Qur’an di Bangunan yang Nyaris Roboh
Persinggahan pertama adalah Pesantren Al-Baqiatus Shalihah di Kampung Neglasari, Desa Ciburial. Pesantren yang berdiri sejak 2009 itu dipimpin Ustadz Kunen. Ia dibantu istrinya, Iis Nurasiah, dalam membimbing para santri. Sebanyak 45 santri belajar agama di pesantren tersebut.

Namun, pemandangan di tempat belajar mereka membuat hati terenyuh. Bangunan yang digunakan untuk mengaji kondisinya nyaris roboh. Di dalamnya, al-Qur’an dan buku Iqro’ yang tidak layak pakai masih bertumpuk di rak yang juga mulai rapuh.

Kedatangan tim wakaf membawa kebahagiaan tersendiri bagi Ustadz Kunen dan para santri.

“Jazakallahu khairan katsiran kepada tim dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah yang telah sudi berkunjung ke kobong (pondok) kami,” ujar Ustadz Kunen menyambut kedatangan tim.

“Al-Qur’an dan buku Iqro’-nya sangat bermanfaat bagi santri kami,” katanya penuh rasa syukur.

“Semoga pahala terus mengalir untuk para donatur, pewakaf hingga akhir kelak dari setiap huruf yang dibaca dan diamalkan oleh para santri,” tutur pria berusia 38 tahun ini.

Ungkapan syukur juga datang dari para santri.

“Alhamdulillah. Terima kasih al-Qur’annya, kami bertambah semangat belajar al-Qur’annya,” ujar Candra, siswa kelas 2 MTs, dan Maesaroh, siswi kelas 3 MTs.

Pada kesempatan itu, M. Azmi, Sekretaris YAWASH, mengingatkan bahwa al-Qur’an yang diwakafkan bukan sekadar untuk disimpan di rak. Amanah tersebut harus dibaca, ditadaburi, diamalkan, dan diajarkan kembali.

“Karena sebaik-baik manusia adalah yang mengajarkan al-Qur’an,” ujar Azmi, mengutip Hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Cahaya di Pesantren Al-Hizaiyah
Kebahagiaan yang sama juga dirasakan para santri di Pesantren Al-Hizaiyah. Pesantren ini berdiri sejak 2022. Dipimpin oleh Ustadz Kholili. Sebanyak 20 santri menimba ilmu agama di pesantren tersebut.

“Alhamdulillah, terima kasih atas pemberian al-Qur’an dan buku Iqro’nya, insya Allah sangat bermanfaat bagi kami,” ungkap Ustadz Kholili.

Menunggu Hingga Malam
Waktu terus berputar. Shalat Isya telah berlalu. Malam semakin larut. Namun, perjalanan tim wakaf belum selesai.

Di Pesantren Darul Hikam, para santri ternyata masih menunggu kedatangan tim Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah.

Begitu tim wakaf tiba di pondok, puluhan santri langsung menyambut dengan penuh suka cita. “Alhamdulillah!” teriak mereka.

Di tengah penerangan yang temaram, wajah-wajah para santri terlihat ceria. Senyum mengembang. Mereka tampak bahagia menyambut kedatangan tamu yang membawa al-Qur’an dan buku Iqro’.

Pimpinan Pesantren Darul Hikam, Ustadz Muhammad Saerozi, pun menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Hatur nuhun (terima kasih) kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah yang jauh-jauh datang ke pondok kami. Kami merasa senang, semoga tidak kapok datang ke pondok kami,” ujarnya.

Ustadz muda berusia 27 tahun itu juga menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan.

“Kami atas nama pengasuh dan santri menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan al-Qur’an dan buku Iqro’-nya. Semoga pahalanya berlimpah kepada para pewakaf,” katanya.

Pesantren Darul Hikam berdiri pada akhir 2024. Bangunan saung yang digunakan untuk kegiatan belajar pun masih menumpang dan merupakan pinjaman.

“Pondok kami berdiri akhir tahun 2024, bangunan saung ini juga masih numpang, dipinjami. Semoga kami bisa membangun di tempat sendiri,” tuturnya, sembari memohon doa.

Sinergi Berwujud Energi
Ketika tiba di Cimanggu, tim wakaf singgah di RM Ajo Habibi 3. Sang pemilik, Uda Yusuf menyambut dengan suka hati.

Uda Yusuf sudah lama bersinergi dengan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Di sela-sela kesibukan mengelola 3 rumah makannya, ia masih menyempatkan menggunakan handphone (HP)nya untuk mengajak Muslimin berbagi kebaikan.

Di salah satu dinding rumah makannya tertulis: “Untuk Yatim Piatu Gratis.”

“Saya sebagai jalan saja, tentu dengan senang hati akan membantu. Semoga kita istiqamah dan mendapat ridha Allah SWT,” ujar Uda Yusuf.

Wakaf yang Menjadi Cahaya
Menurut M. Azmi, masih banyak santri di pelosok negeri ini, khususnya di Kabupaten Pandeglang, yang memiliki semangat tinggi untuk belajar agama, tetapi belum ditopang sarana dan prasarana yang memadai.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam perjuangan tersebut melalui sedekah dan wakaf.

“Karena itu, yuk mari kita berwakaf al-Qur’an dan buku Iqro’ atau bersedekah untuk sarana prasarana,” ajaknya.

“Usia boleh berakhir tetapi pahala harus tetap mengalir,” ujarnya menegaskan. Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org