Skip to content

Al-Qur’an untuk Mualaf di Waingapu, Sumba

Penyaluran mushaf al-Qur’an oleh Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) ke pelosok negeri terus digalakkan. Pada Agustus ini wakaf al-Qur’an disalurkan ke santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) At-Thaibun Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua TPA At-Thaibun Waingapu Ustadz Abdurrahman Wali, mengucapkan terima kasih kepada YAWASH. “Masya Allah, al-Qur’an ini sangat bermanfaat bagi santri-santri kami di Waingapu. Kami sangat sulit mendapatkan al-Qur’an,” ungkap pria kelahiran Sumba, 5 Agustus 1985 ini.

Ungkapan senada juga disampaikan Ustadz Jemi Ahmad al-Musayaf, Sekretaris Yayasan Baitul Maqdis Cabang Sumba.

Alhamdulillah, kami sampaikan jazakallah khairan katsiran kepada para donatur yang telah mewakafkan al-Qur’an ke Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Semoga Allah Ta’ala membalasnya dengan pahala yang berlimpah,” ujar mualaf asal Poso yang mulai berdakwah di Waingapu pada tahun 2020 ini.

Sejak TPA At-Thaibun bekerjasama dengan Yayasan Baitul Maqdis, Abdurrahman pun tak lagi mengajar santrinya sendirian, melainkan ditemani Jemi Ahmad al-Musayaf. Kini, muridnya berjumlah 30 orang, putra dan putri. Meski sarananya sangat terbatas, tetapi mereka tetap semangat untuk mengaji.

Setamat belajar dari TPA At-Thaibun, santri harus melanjutkan ke Rumah Qur’an. “Sehingga berkelanjutan, bahkan kalau mau sekolah di pesantren, misal di Jawa, kami akan bantu. Harapannya, sepulang dari sana, mereka kembali ke sini untuk mengajarkan ilmunya,” jelas Ahmad.

“Sebagai rasa syukur kepada Allah, saya wakafkan diri untuk Islam baik itu dengan membina santri maupun masyarakat di pelosok Sumba,” imbuhnya menegaskan.

Abdurrahman juga tak pernah lelah mengajak anak-anak serta masyarakat sekitar untuk belajar al-Qur’an. “Alhamdulillah, Allah beri hidayah, ada saja yang kemudian masuk Islam,” katanya.

Menurut Ahmad, pada pertengahan Agustus, ia telah mensyahadatkan lagi satu keluarga. “Bapak dan tiga orang anaknya,” ungkap Ahmad.

Ia juga menceritakan bahwa masjid di daerahnya masih jarang. Bahkan, ada di salah satu desa dimana warga Muslim harus menempuh jarak sejauh empat kilometer untuk bisa melaksanakan shalat di masjid. “Mereka shalat di masjid itu setahun sekali atau dua kali, yaitu shalat Idul Fitri dan Idul Adha saja.” 

Wilayah Sumba terdiri dari empat kabupaten yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat. Waingapu adalah kota kecamatan yang juga merupakan ibukota Kabupaten Sumba Timur.

Masih banyak saudara Muslim di pelosok negeri ini yang membutuhkan al-Qur’an, buku Iqro’, mukena maupun sarana ibadah lainnya. Karena itu, yuk bantu mereka!*Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org