Dakwah Mbah Wono di Pinggiran Rel Kereta Api

Awal Oktober lalu, Tim Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah menyusuri pinggiran rel kereta api. Pada saat yang bersamaan ada “ular besi” yang lewat. Sontak, gemuruh mesin kereta itu terdengar keras.

Setelah berjalan kaki beberapa puluh meter, akhirnya kami tiba di sebuah mushalla. Sore itu, sudah ada beberapa jamaah ibu-ibu yang akan belajar mengaji.

“Ibu-ibu, sore ini, di Mushalla Darussalam mari kita memanfaatkan waktu untuk belajar membaca al-Qur’an. Hidup kita tidak lepas dari dua hal yaitu sabar dan syukur,” ujar Mbah Wono.

“Kita harus sabar ketika ada ujian dan cobaan, juga sabar saat belajar membaca al-Qur’an. Sedangkan syukur, alhamdulillah, kita di sisa usia ini bisa belajar al-Qur’an meskipun masih belajar membaca alif, ba, ta, tapi asal istiqamah insya Allah bisa. Usaha kita ini akan dinilai oleh Allah sebagai amalan baik untuk bekal di akhirat kelak,” papar Mbah Wono lagi.

Kemudian, disaksikan sebagian jamaah pengajiannya, Mbah Wono dengan senang hati menerima wakaf al-Qur’an.

“Terima kasih, al-Qur’an ini sangat bermanfaat untuk jamaah di sini,” kata pria paruh baya ini singkat sambil tersenyum.

Pada kesempatan itu, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) menyerahkan al-Qur`an untuk masyarakat pinggiran rel kereta api di sepanjang jalur kereta api Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah. Mbah Wono adalah dai yang berdakwah di sini, sejak 15 tahun lalu.

Nama lengkapnya Muhammad Suwono Hadi Sumitro. Namun, masyarakat Gilingan lebih akrab memanggilnya Mbah Wono. Perawakannya kurus dan sederhana. Usianya kini sudah menginjak 60 tahun. Hampir semua masyarakat Gilingan mengenalnya. Sudah lebih 15 tahun ia membina tempat ini.

Menurut Mbah Wono, mereka yang tinggal di daerah ini kebanyakan adalah pekera seks komersial (PSK), preman, pencopet, dan pekerja kriminal lainnya.

Berdakwah di Tempat Hitam

Di sepanjang jalur rel kereta api Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Kota Solo sudah lama menjadi lembah hitam. Di beberapa sudutnya terkenal sebagai pusat  prostitusi, tempat preman dan pemotongan anjing terbesar di  Solo.

“Saya masuk ke sini tahun 2004, tetapi pendekatannya mulai dari 2001. Ternyata Gilingan itu pusat PSK dan tertua, copetnya banyak dan kejahatan lainnya luar biasa,” kata Mbah Wono.

Prostitusi di Gilingan memang sudah mendarah daging. Ada sejak zaman kolonial, sekitar tahun 1930-an. Kegiatan ini turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.

Mbah Wono lahir di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Klaten, 23 April 1959. Mbah Wono memulai dakwanya bukan dari atas mimbar.

Di Gilingan dulu tidak ada masjid, sedangkan gereja banyak berdiri kokoh. Di sini sekolah Minggu bertebaran.

Mbah Wono memulai kegiatannya dengan membawa sapu setiap pagi. Ia menyapu di gang-gang sempit dan menjumputi sampah plastik di rel kereta api. Itu dilakukan bertahun-tahun hingga warga sekitar yang menyaksikan pun tergerak hatinya untuk turut menjaga kebersihan.

Perlahan kemudian berlanjut ke warung kopi. Ia sering ngopi bareng masyarakat sekitar. Dalam obrolan-obrolan hangat itu, tak lupa ia selipkan sedikit nasehat, khususnya tentang hakikat kehidupan.

Kegiatannya pun berkembang. Mbah Wono sering mengadakan acara makan bersama, bagi-bagi sembako dan kegiatan sosial lainnya. Setelah itu, yang dilakukan adalah membangun masjid dan mengatur kegiatannya.

Dari 22 RW di Gilingan, 13 RW sudah berhasil dimasuki Mbah Wono. Dan 9 RW sudah terbina. Ada  6 masjid dan mushalla yang berdiri di sini.

 

“Jumlah jamaahnya antara 500-1.000 orang, masih butuh al-Qur’an yang banyak,” katanya.

Yuk, kita bantu mereka yang sangat membutuhkan al-Qur’an!* Bambang S/sejutaquran.org

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Dakwah Mbah Wono di Pinggiran Rel Kereta Api"