Skip to content

Ekspedisi Wakaf Al-Qur’an di Pelosok Pandeglang, Banten

Pandeglang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Banten. Terletak di bagian barat Pulau Jawa.

Kabupaten Pandeglang yang terdiri 35 kecamatan ini dijuluki sebagai “Kota Sejuta Santri dan Seribu Ulama” karena banyaknya pondok pesantren dan ulama yang lahir di daerah ini.

Oleh karena itu, baru-baru ini, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) dengan program Tebar Sejuta Qur’an bersinergi dengan Yayasan Imam Syafi’i menyalurkan mushaf al-Qur’an dan buku Iqro’ ke beberapa tempat di pelosok Pandeglang mulai dari pesantren, madrasah, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ), masjid, mushala hingga majelis taklim.

Peyaluran wakaf al-Qur’an ini cukup menantang karena lokasi yang dituju berada di pelosok dengan kondisi jalan yang kadang masih tanah atau berbatu. Bahkan, untuk mendatangi beberapa tempat harus melalui hutan.

Tim wakaf sempat tertahan karena hujan sangat deras. Laju kendaraan sangat pelan karena banyak kubangan air dan lumpur. Untuk itu, penyalurannya bertahap dan butuh waktu sepekan.

Relawan YAWASH di Desa Mahendra, Kecamatan Cibaliung, Yusuf Elmulyasandi, yang akrab disapa Uda Yusuf selalu semangat dan membantu kegiatan dakwah dan sosial sangat berperan dalam kegiatan ini.

“Insya Allah, saya siap membantu dengan menyalurkan al-Qur’an, buku Iqro’, sajadah, mukena, sarung ataupun kebutuhan lainnya kepada yang membutuhkan,” ungkap Uda Yusuf.

“Masih banyak pondok pesantren, TPQ, mushala, madrasah dan majelis taklim di pelosok yang sangat membutuhkan bantuan,” ia menegaskan.

“Ada beberapa bangunan yang sudah tidak layak, tetapi santri dan gurunya tetap semangat menimba ilmu dan mengajarkan agama,” imbuhnya.

Kang Agus, relawan YAWASH di Kampung Ciguha, Desa Kiarapayung, Kecamatan Cibitung juga turut serta dalam penyaluran al-Qur’an ini hingga ke pelosok. “Insya Allah, saya siap membantu, banyak sekali pesantren atau kobong yang al-Qur’annya sudah tidak layak dibaca,” ujarnya.

“Tapi, jangan kapok ke sini lagi karena medannya cukup berat. ‘Kasihan’ mobilnya, harus yang double gardan,” katanya sambil tersenyum.

“Semoga ada donatur atau muhsinin yang mau berwakaf mobil double gardan,” kata M Azmi, Sekretaris YAWASH menimpali.

Ungkapan Terima kasih

Pimpinan Pondok Pesantren Aroihanul Ihsan, Ustadz Ahmad Fauzi menyatakan ungkapan terima kasih. “Alhamdulillah, kami atas nama pengurus pesantren menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah dan Yayasan Imam Syafi’i atas bantuan al-Qura’nnya,” ujarnya.

Pesantren ini berlokasi di  Kp. Marapat Buruluk, Desa Karyabuana, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang.

Kebahagiaan juga dirasakan oleh para santri serta guru di Daarul Iftida, yang terletak di Kp. Ciwangun Barat, Desa Sukajadi, Kecamatan Cibaliung. Mereka pun senang mendapatkan mushaf al-Qur’an dan buku Iqro’ baru.

“Terima kasih, ini sangat bermanfaat bagi para santri di sini,” ungkap seorang pengurus yang mengenakan jilbab hitam ini.

“Semoga Allah membalas kebaikan para donatur, pengurus, dan relawan dengan pahala yang berlimpah dan berkah,” imbuhnya dengan senyum bahagia.

YAWASH juga menyalurkan mushaf al-Qur’an kepada para santri di Pesantren Miftahul Ulum, di Kp. Sadangkolot, Desa Ciburial, Kecamatan Cimanggu.

“Kami berterima kasih atas pemberian al-Qur’an, insya Allah sangat bermanfaat,” kata para santri bersamaan.

Selain itu, al-Qur’an disalurkan ke Pesantren Al-Ikhlas yang dipimpin KH. Aa Satoni di Desa Kersaratu, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Pesantren Hidayatul Mubtadiin Cikeusik,  Pesantren Al-Hijrah Cikalong, Pesantren Babul Ulum Cibaliung, Pesantren Al-Ikhsanul Kamilin, Pesantren Darel Muhajirin Cibaliung dan Pesantren Nurul Iman Cikadu.

Pondok pesantren lainnya yaitu Pesantren Al-Khoiriyah Sukajadi, Pesantren Nurul Atfal Ciburial, Pesantren Al-Ghauzzan di Kp. Sorogan, Pesantren Nurunnajah Sudimanik, serta puluhan TPQ, mushala, majelis taklim, dan madrasah.

M. Azmi, mengatakan, “Semoga al-Qur’an dari para donatur yang kami salurkan ini bisa bermanfaat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, “Al-Qur’annya dibaca, tidak apa-apa sampai lecek nanti diganti dengan yang baru. Jangan disimpan saja.”

Meski serba terbatas tetapi semangat para santri menimba ilmu agama sangat besar. Begitu juga pengajar dan pengurus senantiasa berusaha agar proses belajar-mengajar tetap berjalan baik. Mereka semakin bersemangat ketika mendapat wakaf al-Qur’an, Iqro’, dan kerudung.

“Oleh karena itu, yuk, kita bantu mereka,” ajak M. Azmi.*Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org