Empat jam perjalanan untuk menghadirkan al-Qur’an di pelosok yang sunyi. Hutan dilalui, sungai diseberangi, jalan berbatu ditempuh, demi satu tujuan: agar ayat-ayat Allah sampai ke hati yang merindu.
Januari 2026 lalu, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) kembali menyalakan cahaya al-Qur’an di sudut negeri: di pelosok Bengkulu. Di tempat ini, jalan tak selalu ramah dan sinyal sering kali menyerah. Namun, mushaf-mushaf al-Qur’an hadir membawa harapan.
Program Tebar Sejuta Qur’an kembali menyapa mereka yang lama menanti. Kali ini, langkah kebaikan YAWASH menembus MDTA Air Kuro, MDTA DIY, dan SMP Negeri 53 Bengkulu Utara. Bukan sekadar distribusi mushaf, tetapi perjumpaan batin antara doa yang dipanjatkan dan jawaban yang Allah Ta’ala kirimkan.

Di MDTA Air Kuro, Dusun Air Kuro, Desa Sukamaju, Kecamatan Marga Sakti Sebelat, senyum para santri merekah. Mushaf-mushaf baru mereka peluk erat, seolah menggenggam masa depan.
“Alhamdulillah, akhirnya doa-doa santri terkabul. Kami sangat membutuhkan al-Qur’an,” ujar Irwanto, Ketua MDTA Air Kuro, dengan suara bergetar, menahan haru yang nyaris tumpah.
Masih di dusun yang sama, tim YAWASH melanjutkan langkah ke MDTA DIY. Di tempat ini rasa syukur terasa begitu tulus. “Terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah yang telah sampai ke lokasi kami. Ini bukan perjalanan mudah. Dibutuhkan perjuangan dan keikhlasan agar bisa tiba di tempat ini,” tutur Bowo, Ketua MDTA DIY, dengan mata berbinar.
Kebahagiaan serupa menyambut di SMP Negeri 53, Desa Talang Berantai, Kecamatan Ulok Kupai. Aji Feri Santosa, Kepala Sekolah SMPN 53, menyampaikan doa, “Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga pahala wakaf al-Qur’an ini terus mengalir bagi para pewakaf, pengurus, dan relawan.”

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar empat jam dengan sepeda motor. Jalan berlubang, berkelok, dan berbatu menjadi teman setia.
Tim harus melintasi kawasan tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit dan karet, hingga menyeberangi sungai berarus deras dengan rakit sederhana. Sepeda motor pun ikut diangkut.
Di tempat-tempat inilah al-Qur’an kembali menemukan rumahnya. Di tangan santri-santri, ayat-ayat suci itu akan dibaca, dihafalkan, dan diamalkan. Dan di setiap huruf yang dilantunkan, mengalirlah pahala bagi mereka yang telah mewakafkannya. *Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org




