Secuil Berita dari Pulau Nusakambangan

No comment 307 views

Pagi itu, Tim Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah tiba di Pelabuhan Wijayapura, Kabupaten Cilacap. Semua pengunjung yang hendak ke Pulau Nusakambangan diperiksa secara ketat oleh petugas.

Bahkan, setiap pengunjung harus mendapat izin khusus dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk masuk ke  Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, kecuali karyawan lapas dan keluarga narapidana.

Sinar mentari mulai menghangatkan badan. Langit di atas Pelabuhan Wijayapura pesisir pantai Cilacap, Jawa Tengah itu tampak cerah.

Tepat pukul 07.00 kapal feri Pengayoman Nusakambangan yang dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM mulai bergerak. Penyeberangan pun dimulai. Beberapa penumpang naik ke lantai dua. Namun ada juga yang tetap duduk di atas sepeda motornya.

Saat itu kondisi arus tenang. Karenanya, tidak butuh waktu lama. Perjalanan menyeberangi Segara Anakan itu hanya 10 menit saja. Kapal telah sampai di tempat tujuan, Dermaga Sodong, Pulau Nusakambangan.

Setelah itu, dua kendaraan tim Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah dan tim Islamic Medical Service (IMS) meluncur menuju Lapas Kembangkuning. Tujuannya menggelar tabligh akbar, membagikan al-Qur’an, dan hapus tato.

Selepas pintu gerbang lapas, sekitar 30 meter, kendaraan mengambil arah kanan.  Jalan beraspal itu membelah pulau menjadi dua bagian. Sebelah kiri pepohonan dan rerumputan, sedang sebelah kanan lautan. Jalan menuju lapas itu kadang lurus dan berbelok-belok. Setelah menempuh beberapa kilometer perjalanan, mulai tampak hutan dengan pohon-pohon yang besar.

Dari pelabuhan Sodong ke Lapas Kembangkuning membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

Manfaatkan Waktu dengan Membaca Al-Qur’an

Kalapas Kelas IIA Kembangkuning, Edy Saryanto dalam sambutan acara tabligh akbar memperingati Tahun Baru 1441 Hijriyah itu mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia juga mengajak warga binaan untuk melakukan perubahan.

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, minggu ini harus lebih baik dari minggu kemarin. Begitu juga tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, al-Qur’an untuk warga binaan pemasyarakatan (WBP) dari Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah secara simbolis diserahkan kepada Kalapas Edy Saryanto, Rabu, (4/9/2019) lalu.

“Saya menyampaikan ungkapan terimakasih kepada Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tentu al-Qur’an ini sangat bermanfaat bagi warga lapas,” kata Edy.

“Mereka yang sudah berhijrah banyak memanfaatkan waktunya untuk beribadah, seperti membaca al-Qur’an, zikir, berdoa, shalat Tahajud, dan shalat Dhuha,” imbuhnya.

Ustadz Hasan Makarim, koordinator bimbingan ruhani Muslim untuk Lapas se-Nusakambangan menyatakan komitmennya, ”Terimakasih saya sampaikan kepada Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah. Insya Allah, kerjasamanya akan terus berlanjut. Sebelum ini juga telah dibagikan al-Qur’an untuk warga Lapas Batu (2015). Saya akan terus berupaya mendatangkan lembaga yang membantu program Kalapas,” katanya.

Sementara itu, takmir Masjid Al-Ikhlas, Deni Setia menyatakan, “Al-Qur’an sangat diperlukan oleh warga binaan yang juga jamaah Masjid Al-Ikhlas. Di sini ada yang baru belajar membaca al-Qur’an, tetapi banyak juga yang sudah khatam membaca al-Qur’an,” ungkapnya.

Menurutnya, di lapas ini juga ada “kamar santri”. Santri yang boleh masuk harus dites dahulu, baik itu hafalan Qur’annya maupun kualitas bacaannya.

Mendapat Hidayah

Pada kesempatan lain, tim Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah berbincang-bincang dan membagikan al-Qur’an kepada warga binaan. Di antaranya seorang narapidana dengan inisial nama F. Pria asal Bandung ini mengikuti program hapus tato gratis yang diselenggarakan oleh Lapas Kembangkuning bekerjasama dengan Islamic Medical Service (IMS), Dompet Dhuafa, dan Bank Muamalat.

Pria yang sudah mendekam selama 11 tahun karena kasus pembunuhan ini merasa senang. Pasalnya, upaya menghapus tato bergambar cicak di lengannya itu dianggap sebagai bukti hijrahnya.

“Dulu ditato waktu SMP, iseng saja, ikut-ikutan teman. Alhamdulillah, hikmahnya di sini saya sekarang bisa mengaji, berzikir, shalat Dhuha, membaca buku dan majalah Islam,” ujarnya.

“Mohon doanya, insya Allah, setelah keluar saya mau cari rezeki yang halal, saya mau jualan gorengan,” kata F, yang kini aktif mengelola perpustakaan Pancaran Ilmu milik lapas.

“Saya ditugaskan mencatat buku-buku dan majalah yang dipinjam teman-teman,” katanya.

Sama halnya dengan F, narapidana berinisial D (33 tahun) ini juga mengaku mendapat hidayah di lapas. Ia sudah menjalani hukuman 13 tahun 8 bulan.

“Saya di sini mendapat hidayah, alhamdulillah. Saya bisa beribadah melaksanakan shalat dan membaca al-Qur’an,” ujarnya.

“Saya juga senang baca buku dan majalah Islam di perpustakaan, banyak sekali manfaatnya, terimakasih Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah,” ungkapnya.

Pulau Nusakambangan adalah sebuah pulau yang secara geografis masuk dalam wilayah Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Pulau ini dikenal sebagai tempat beberapa lapas berkeamanan tinggi.

Saat ini, terdapat delapan Lapas di Pulau Nusakambangan, yaitu Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Kembangkuning, Lapas Pasir Putih, Lapas Permisan, dan Lapas Narkotika.

Selain itu, ada Lapas Terbuka dan yang baru diresmikan Agustus lalu oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly adalah Lapas Karanganyar.

Lapas Super Maximum Security (SMS) Karanganyar adalah lapas berpengamanan super ketat. Letak lapas high risk ini di sebuah bukit, benar-benar terpisah dari tujuh lapas lain di pulau penjara ini.

  
Namun, keterbatasan tidak mengurangi semangat warga binaan dalam menimba ilmu agama. Dan mereka semakin bersemangat ketika mendapat wakaf al-Qur’an dari Anda. Yuk, bantu mereka!*
Dadang Kusmayadi /sejutaquran.org

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Secuil Berita dari Pulau Nusakambangan"