Home Berita Semangat Mengaji Santri TPQ Sayyidul Qura Magelang

Semangat Mengaji Santri TPQ Sayyidul Qura Magelang

by admin

“Mari kita membaca basmallah untuk mulai ngaji sore hari ini,” pinta Irfan kepada puluhan santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Sayyidul Qura.

Namanya juga anak-anak, meski sudah dimulai masih ada saja yang bercanda. Tapi Irfan tetap melanjutkan mengajar ngaji. Sesekali ia mengingatkan santri yang masih bersenda gurau.

Kegiatan mengaji itu dilakukan sepekan empat kali, dimulai dari jam 15.30 hingga 17.00. Hari Jumat hingga Ahad libur.

Pada kesempatan itu, 12 Agustus lalu, santri TPQ Sayyidul Qura di Kampung Tulung RT 02 RW 01, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah menerima al-Qur’an  dari para pewakaf melalui Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH).

Irfan adalah pengajar di sini, sejak 5 tahun yang lalu.

2

“Alhamdulillah, saya atas nama pengurus TPQ Sayyidul Qura menyampaikan terima kasih bayak atas pemberian al-Qur’annya dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Semoga Allah membalas kebaikan para pewakaf dan pengurus dengan pahala yang setimpal,” papar Irfan.

Senada dengan pengasuhnya, santriwati bernama Mita, Kesya, dan Riri juga mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami atas nama santriwati TPQ Sayyidul Qura sangat bersyukur dapat al-Qur’an baru, sangat berguna.  Terima kasih al-Qur’annya.”

Tetap Semangat

Nama lengkapnya Muhammad Ghifari Irfansyah. Usianya baru 20 tahun. Hampir semua warga Kampung Tulung mengenalnya. Pemuda ini semangat dalam berbagi ilmu.

WhatsApp Image 2020 09 04 at 16.39.34

Menurut Irfan, tujuan didirikannya lembaga TPQ Sayyidul Qura adalah untuk membentengi aqidah warga Kampung Tulung, khususnya dari upaya Kristenisasi yang begitu massif di wilayah Kelurahan Magelang ini.

“Di wilayah Kelurahan Magelang terdapat sekitar 7 gereja: 1 gereja Katholik, dan 6 gereja Kristen,” kata Irfan.

“Presentase pemeluk agama Nashrani dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Sasarannya selain kalangan lanjut usia tapi juga anak-anak, dan kalangan milenial,” ungkapnya.

Irfan mengisahkan. Pada awal pendirian TPQ sangat sulit mencari tenaga pengajar, termasuk dana untuk operasional. Karena itu, ia beji baku mengerjakannya sendiri.

Selain itu, minat anak-anak untuk mengaji masih rendah. Awalnya, hanya ada sekitar 10 anak. Berjalan cukup lama. Namun, kemudian mengalami kekosongan kepengurusan. Akibatnya TPQ ini berhenti.

 

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, hati Irfan terenyuh. Ia mengaktifkan kembali TPQ. Ada 4 guru yang ikut membantu, meski tidak penuh mengajar.

Untuk menarik santri TPQ Irfan memasang strategi. Diantaranya, menambah kegiatan-kegitan seperti bercerita tentang sejarah dunia Islam, les bimbel gratis, dan pencak silat.

3

“Alhamdulillah, anak-anak tertarik kembali untuk mengaji. Hingga kini  ada sekitar 80-an santri yang mengaji, mulai dari Iqra’, Yanbua, sampai al-Qur’an,” ujar Irfan, mahasiswa semester 5, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar ini.

Banyak TPQ, mushala, masjid, pesantren, dan majelis taklim di pelosok negeri ini sangat kekurangan fasilitas, terutama persediaan al-Qur`an. Tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi semangat mereka dalam menimba ilmu agama.

Oleh karena itu, yuk, bantu mereka.*Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org

Related Articles

Leave a Comment

× Ada Yang Bisa Kami Bantu?