Senyum Santri TPQ Al-Muttaqiin Air Napal Bengkulu

Awal bulan Juli 2022 lalu, relawan dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) berangkat dari Desa Sumberagung, Kecamatan Armajaya, Bengkulu.

Siang itu, mereka hendak menuju Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Muttaqiin. Tepatnya di Jalan Raya Desa Pasar Kerkap KM. 28, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara.

Jalan menuju TPQ Al-Muttaqiin tidak mudah. Melalui hutan sawit. Kadang berbatu dan berkelok-kelok. “Perjalanan cukup jauh, harus melalui hutan dengan kondisi jalan kadang berbatu dan rusak-rusak,” ujar Muhammad Syarifuddin, relawan YAWASH.

“Kami khawatir jika sepeda motor mogok, karena kondisi sepeda motor yang kami pakai sudah tidak layak,” kata Muhammad.

Meski menempuh perjalanan yang cukup jauh, setelah tiba di lokasi, mereka tampak bahagia. Suasana di Desa Pasar Kerkap dan sekitarnya sangat aman dan nyaman. Mereka sudah ditunggu santri dan pengurus TPQ. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, dan sudah ditungggu kedatangan kami ini,” katanya.

“Kami atas nama guru TPQ Al-Quttaqiin mengucapkan banyak terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah atas pemberian wakaf al-Qur’annya. Semoga ini menjadi amal jariyah bagi para donatur,” ujar Ustadzah Nursidati, pendiri dan juga pengajar TPQ Al-Muttaqqiin.

Para santri pun merasa bersyukur atas pemberian al-Qur’an ini. “Kami santri TPQ Al-Muttaqiin Desa Pasar Kerkap, Kecamatan  Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara mengucapkan jazakumullah khairan katsira kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah dan para donatur. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah hingga akhir kelak,” ujar puluhan santri bersamaan.

TPQ Al-Muttaqiin berdiri tahun 2004. TPQ yang berlokasi sekitar 28 km dari pusat kota ini, jumlah santrinya sebanyak 55 orang. Dan, dibimbing oleh 4 orang guru.

Para santri di sini bukan saja belajar mengaji al-Qur’an dan iqra’ saja, tetapi juga belajar hafalan surah-surah pendek al-Qur’an, akhlak, praktek ibadah seperti wudhu, shalat, wirid dan doa sehari-hari.

Santri belajar mulai dari hari Senin hingga Jum’at, dari pukul 15.00-17.00. Karena jumlahnya banyak, maka dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok al-Qur’an dan kelompok Iqra’.

Menurut Nursidati, masyarakat di sekitar TPQ yang mayoritas pekerjaannya petani dan buruh itu sangat antusias serta mendukung penuh berdirinya TPQ Al-Muttaqiin ini. Karena, anak-anak mereka dapat belajar membaca dan menulis al-Qur’an dan juga praktek ibadah shalat dan lainnya.

“Alhamdulillah, warga sekitar sangat mendukung, karena anak-anaknya bisa mengaji di tempat yang dekat dengan rumahnya,” ujarnya.

Butuh al-Qur’an dan sarana penunjang

Kegiatan mengaji di TPQ Al-Muttaqin awalnya di rumah Nursidati. Motivasinya, karena saat itu prihatin dengan anak-anak sekitar rumah yang pada sore hari hingga waktu maghrib kegiatannya hanya dimanfaatkan untuk bermain.

“Awalnya yang ngaji 5 orang, kemudian bertambah 10 orang. Alhamdulillah, terus bertambah,” ungkap Nursidati penuh syukur.

Seiring dengan jumlah santri yang terus bertambah, maka dia kesulitan tempat untuk belajar santri. Melihat kondisi tersebut, maka orangtua Nursidati, Ibu Rosdawati menghibahkan tanah yang berada di belakang rumah untuk dijadikan TPQ.

Kemudian Nursidati mengusulkan permohonan pendirian gedung TPQ kepada pemerintah desa. Alhamdulillah, pada tahun 2017 berdirilah bangunan TPQ. Di lahan tersebut kini berdiri 2 ruang kelas, 1 ruang guru, dan 2 WC.  Sehingga sekarang santri belajar dengan nyaman.

Saat ini, yang menjadi kendala yaitu sarana belajar mengajar yang masih serba kekurangan, seperti al-Qur’an, buku Iqra’, alat-alat peraga, dan sajadah.

Masih banyak saudara kita di pelosok negeri ini yang membutuhkan al-Qur’an dan sarana ibadah lainnya. Oleh karena itu, yuk bantu mereka.* Dadang Kusmayadi/sejutaquran.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.