Warga Kampung Mualaf Senang Mendapat Al-Qur’an

Brigade Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur menggelar kegiatan Kemah Dakwah Pelajar di perbatasan Kabupaten Ponorogo-Pacitan pada tanggal 1 hingga 3 Januari 2020 lalu,. Tepatnya di pelosok Dukuh Ngendut, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Lokasi ini berjarak 15 kilometer ke arah timur dari Pasar Gemah Pacitan. Jika ditempuh dari Ponorogo kota akan membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Yayasan Wakaf Al-Qur`an Suara Hidayatullah (YAWASH) membagikan al-Qur`an kepada warga di “Kampung Mualaf”. Penyerahan diwakili oleh para pelajar yang sedang melakukan kegiatan Kemah Dakwah Pelajar tersebut.

“Terima kasih kami sampaikan kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah atas kerjasamanya, insya Allah sangat bermanfaat,” ujar Adham Hakam Amrulloh, komandan Brigade Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur.

“Kami melakukan kegiatan ini karena mereka saudara kami,” imbuh Adham.

“Kegiatan yang hanya belangsung selama tiga hari ini belum cukup untuk membentengi dan mengamankan aqidah umat Islam, maka harus ada kegiatan berkelanjutan,” kata Chamid, koordinator lapangan Kemah Dakwah Pelajar ini.

Kampung Mualaf

Sebanyak 27 pelajar yang tergabung dalam relawan Brigade PII Jawa Timur melakukan survey kepada warga dan perangkat desa setempat. Menurut mereka,  “Kampung mualaf” ini dihuni oleh 46 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 163 jiwa. Awalnya, warga kampung ini beragama Islam, namun karena gencarnya kristenisasi di daerah ini, maka penduduk berpindah agama menjadi Kristen Katolik.

Alhamdulillah, sejak 1980-an hingga 2000-an satu persatu warga dengan kesadarannya sendiri kembali ke pangkuan Islam. Mereka menjadi mualaf. Hingga kemudian daerah ini disebut “Kampung mualaf”.

Umat Islam di sini sangat kekurangan fasilitas. Pendidikan warga rata-rata hanya sampai lulus sekolah dasar. Sebagian besar lahannya persawahan dan perkebunan, seperti cengkeh, jagung, jahe, dan kunyit. Jarak rumah warga rata-rata 100 meter antar rumah. Jarak mushalla satu dengan lainnya sekitar 3 kilometer, dan medannya curam dan licin jika musim hujan.

Menurut Kamituwo yang juga sesepuh dukuh setempat, pemurtadan diawali oleh adanya villa di daerah ini. Kemudian dialihfungsikan sebagai gereja. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Pak  Karno, Pak Min dan Pak Man, yang terus berjuang mempertahankan aqidah warga setempat.

Hingga kini, di dukuh tersebut, tepatnya di RT 1, yang diketuai oleh Muhammad Sabar (sebelumnya bernama Philipus Sabar), alhamdulillah, hanya tersisa empat orang yang merayakan Natal pada 2019 lalu di gereja villa.

Kata Adham, kegiatan ini berlangsung berkat kerjasama berbagai pihak. Di antaranya, Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah, Majalah Suara Hidayatullah, KB PII, DDII Jatim, Yatim Mandiri, PD Muhammadiyah Ponorogo, dan aparat Desa Tugurejo.

“Juga dibantu oleh pelajar dari Tegal Ombo, Pacitan yang ikut membagikan al-Qur’an kepada warga, membagikan peralatan shalat, baju layak pakai, pengajian umum, dan bakti sosial,” katanya.

Dukuh Ngendut membutuhkan pembinaan keislaman untuk dapat menjalankan ibadah secara baik dan pemahaman keislaman secara baik pula.

Mereka senang mendapatkan al-Qur’an dari Anda. Yuk, kita bantu! *Adham Hakam Amrulloh, Dadang Kusmayadi/Sejutaquran.org

Berbagi Untuk Yang Lain:
No Response

Leave a reply "Warga Kampung Mualaf Senang Mendapat Al-Qur’an"